Petatah Petitih Suku Dayak Ngaju
Petatah-petitih Suku Dayak Ngaju adalah warisan sastra lisan yang memuat nilai moral, nasihat kehidupan, dan etos kerja. Diterapkan turun-temurun oleh masyarakat di sekitar Palangka Raya, ungkapan ini menjadi cerminan kebijaksanaan dan pandangan hidup masyarakat Dayak dalam bermasyarakat.
Berikut adalah beberapa petatah-petitih beserta maknanya:
Mahamen Mambesei, Jukung Bahantung
Arti: Malu mengayuh, perahu akan hanyut.
Makna: Seseorang harus bekerja keras, rajin, dan proaktif. Jika seseorang malas atau malu berusaha, kehidupannya tidak akan maju dan akan terbengkalai.
Kilau Ilmu Parei, Tambah Hasien Tambah Suntup
Arti: Seperti ilmu padi, makin berisi makin runduk.
Makna: Ajaran moral agar seseorang yang berilmu, pintar, atau berkedudukan tinggi harus tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri.
Kalah Jadi Kawu, Manang Jadi Buring
Arti: Kalah jadi abu, menang jadi arang.
Makna: Perselisihan atau sengketa tidak akan membawa kebaikan. Baik pihak yang kalah maupun menang akan sama-sama mengalami kerugian dan kesusahan, sehingga musyawarah lebih diutamakan.
Ampit Manak Tingang
Arti: Burung pipit beranak burung enggang.
Makna: Sebuah harapan dan doa bagi orang tua agar anaknya memiliki kehidupan, derajat, atau martabat yang jauh lebih tinggi dan mulia daripada orang tuanya.
Kilau Danum Intu Dawen Kujang
Arti: Seperti air di daun keladi.
Makna: Sindiran untuk orang yang memiliki pendirian labil, tidak teguh pada pendiriannya, dan mudah terombang-ambing oleh omongan orang lain.
Bujur-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)
Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi nyatanya pembohong)
Bisa bulue dia belange (Basah kulit tidak belangnya)
Rimae (artinya): Taloh gawi je dia mandinun hasil (Pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil)
Baka-bakas bua rangas (tua(tua buah rangas)
Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela (Walau pun sudah tua, tapi kerjanya seperti anak-anak).
Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan)
Rimae (artinyanya):Are pander jatun katotoe (besar mulut tanpa bukti).
Kalah batang awi sampange (kalau sungai karena anak sungainya)
Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian (Hilang arah semula karena ulah yang kemudian).
Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).
Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara (Kedewasaan dan kekuatan tak bisa kembali ke awal).
Tingang manganderang into bitie (Enggang menggema di dalam tubuhnya saja)
Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).
Ampit manak tingang (Pipit beranak enggang).
Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase. (Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtua).
Untuk mengenal lebih jauh khazanah budaya, bahasa, dan nilai-nilai luhur masyarakat Kalimantan Tengah, Anda dapat menelusuri literatur kebudayaan di repositori resmi milik Kemendikbudristek atau mengakses Kamus Dayak Ngaju untuk memperdalam maknanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar