Minggu, 05 Juli 2026

ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

 ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

                                                                          image : footage.framepool.com

Anjing asli "Batang Petak - Tanah Dayak" tidak sama dengan anjing dari luar. Anjing Borneo asal muasalnya satu darah dgn manusia Dayak, oleh karena itu orang Dayak semestinya tidak boleh memperlakukan anjing se-mena2, apalagi memakannya... Dalam Kitab Suci Kaharingan PANATURAN disebutkan, "....... daha belum jete palus kajadian manjadi Raja Jangkaung Langit... Raja Jangkaung Langit dst.... narantang Asu Bangka.. Tinai Asu Bangka dst..... narantang Asu Bakawan. Dst... (Panaturan; Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Pajanjuri Dahae Je Ka-Hanya Pasal 14 : 2 - 4).. Ada orang Dayak yang punya kemampuan "menggerakkan roh Asu Bangka" menjadi "anjing siluman" (Bahutai, Karungkup - Dayak Ngaju) untuk melindungi diri dari gangguan roh jahat.. Tapi menurut orang2 tua, bahutai/ karungkup itu selalu meminta "makan", kalau terlambat dia bisa mencelakakan siapa saja yang "lemah", bahkan tuannya sendiri.(Basel Ahat Bangkan)


Pada zaman awal, orang-orang Dayak dilarang keras secara adat untuk membunuh anjing apalagi makan dagingnya.

Memang anjing didalam budaya Dayak bukan dianggap binatang yang suci tetapi bagi orang Dayak anjing menempati posisi khusus sebagai sahabat manusia. Sebagai contoh didalam kebudayaan Dayak Kenyah-Kayan mereka tidak akan berani memukul atau menendang anjing, bahkan ketika seekor anjing meninggal di dalam Lamin atau Betang, maka bangkainya akan didorong keluar menggunakan kayu untuk dihanyutkan di sungai dan tempat dimana anjing itu meninggal akan diberi pagar untuk beberapa hari untuk mencegah anak-anak melewatinya.

Anjing merupakan sahabat setia yang menjaga pemiliknya dan menemani pemilinya berburu dan dianggap jika orang banyak memlihara anjing maka bisa mendapat banyak harta sebab anjing-anjingnya bisa membantu mendapatkan banyak buruan seperti babi, rusa dll. Oleh sebab itu didalam kepercayaan Kaharingan masa lalu apabila anjing ini meninggal maka dilakukan upacara khusus untuk memakamkan anjingnya yaitu suatu upacara Tiwah. Tiwah anjing dengan Tiwah manusia berbeda. Untuk tiwah anjing akan didirikan sebuah tiang dari kayu dan diukirkan motive LAWANG RADAYANG lalu kepala babi hutan atau tulang rahang babi akan digantung pada tiang itu. Lalu tempurung kelapa akan dipukul-pukul sebagai pengganti gong, kemudian makanan anjing disediakan dan ditaruh dalam sebuah perahu dan anjing–anjing lain akan makan diperahu itu lalu kemudian di palas dengan daun sawang supaya anjing–anjing ini bisa mendapat buruan lagi. Selesai upacara perahu tadi akan segera dikaramkan.


                                                                         Aso Motive

Motive-motive anjing (aso) ini akan banyak kita temukan didalam motive tattoo dan ukiran Mandau. Sebagai penjaga bagi pemilik mandau atau tattoo tersebut. Saat ini kearifan budaya ini sudah banyak ditinggalkan oleh Orang Dayak – anjing sudah menjadi salah satu daftar menu akibat pengaruh pendatang yang membawa kebiasaan memakan anjing. Namun sejatinya didalam kepercayaan Kaharingan jika manusia memakan anjing maka manifestasi Ranying Hatalla (Tuhan) sebagai Sahur Lewu / Patahu / Penjaga Kampung tidak akan bersedia menjaganya lagi apabila ada hal-hal yang akan mengancam sebuah Desa. Jika sudah sebagian besar penduduk dalam sebuah desa makan anjing, maka Sahur Lewu (Patahu Lewu) tersebut akan meninggalkan kampung tersebut.


sumber: @FolkOfDayak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

  ANJING DALAM BUDAYA DAYAK                                                                           image : footage.framepool.com Anjing a...