Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dayak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juli 2026

ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

 ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

                                                                          image : footage.framepool.com

Anjing asli "Batang Petak - Tanah Dayak" tidak sama dengan anjing dari luar. Anjing Borneo asal muasalnya satu darah dgn manusia Dayak, oleh karena itu orang Dayak semestinya tidak boleh memperlakukan anjing se-mena2, apalagi memakannya... Dalam Kitab Suci Kaharingan PANATURAN disebutkan, "....... daha belum jete palus kajadian manjadi Raja Jangkaung Langit... Raja Jangkaung Langit dst.... narantang Asu Bangka.. Tinai Asu Bangka dst..... narantang Asu Bakawan. Dst... (Panaturan; Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Pajanjuri Dahae Je Ka-Hanya Pasal 14 : 2 - 4).. Ada orang Dayak yang punya kemampuan "menggerakkan roh Asu Bangka" menjadi "anjing siluman" (Bahutai, Karungkup - Dayak Ngaju) untuk melindungi diri dari gangguan roh jahat.. Tapi menurut orang2 tua, bahutai/ karungkup itu selalu meminta "makan", kalau terlambat dia bisa mencelakakan siapa saja yang "lemah", bahkan tuannya sendiri.(Basel Ahat Bangkan)


Pada zaman awal, orang-orang Dayak dilarang keras secara adat untuk membunuh anjing apalagi makan dagingnya.

Memang anjing didalam budaya Dayak bukan dianggap binatang yang suci tetapi bagi orang Dayak anjing menempati posisi khusus sebagai sahabat manusia. Sebagai contoh didalam kebudayaan Dayak Kenyah-Kayan mereka tidak akan berani memukul atau menendang anjing, bahkan ketika seekor anjing meninggal di dalam Lamin atau Betang, maka bangkainya akan didorong keluar menggunakan kayu untuk dihanyutkan di sungai dan tempat dimana anjing itu meninggal akan diberi pagar untuk beberapa hari untuk mencegah anak-anak melewatinya.

Anjing merupakan sahabat setia yang menjaga pemiliknya dan menemani pemilinya berburu dan dianggap jika orang banyak memlihara anjing maka bisa mendapat banyak harta sebab anjing-anjingnya bisa membantu mendapatkan banyak buruan seperti babi, rusa dll. Oleh sebab itu didalam kepercayaan Kaharingan masa lalu apabila anjing ini meninggal maka dilakukan upacara khusus untuk memakamkan anjingnya yaitu suatu upacara Tiwah. Tiwah anjing dengan Tiwah manusia berbeda. Untuk tiwah anjing akan didirikan sebuah tiang dari kayu dan diukirkan motive LAWANG RADAYANG lalu kepala babi hutan atau tulang rahang babi akan digantung pada tiang itu. Lalu tempurung kelapa akan dipukul-pukul sebagai pengganti gong, kemudian makanan anjing disediakan dan ditaruh dalam sebuah perahu dan anjing–anjing lain akan makan diperahu itu lalu kemudian di palas dengan daun sawang supaya anjing–anjing ini bisa mendapat buruan lagi. Selesai upacara perahu tadi akan segera dikaramkan.


                                                                         Aso Motive

Motive-motive anjing (aso) ini akan banyak kita temukan didalam motive tattoo dan ukiran Mandau. Sebagai penjaga bagi pemilik mandau atau tattoo tersebut. Saat ini kearifan budaya ini sudah banyak ditinggalkan oleh Orang Dayak – anjing sudah menjadi salah satu daftar menu akibat pengaruh pendatang yang membawa kebiasaan memakan anjing. Namun sejatinya didalam kepercayaan Kaharingan jika manusia memakan anjing maka manifestasi Ranying Hatalla (Tuhan) sebagai Sahur Lewu / Patahu / Penjaga Kampung tidak akan bersedia menjaganya lagi apabila ada hal-hal yang akan mengancam sebuah Desa. Jika sudah sebagian besar penduduk dalam sebuah desa makan anjing, maka Sahur Lewu (Patahu Lewu) tersebut akan meninggalkan kampung tersebut.


sumber: @FolkOfDayak

Minggu, 14 Juni 2026

MANDAU SENJATA TRADISIONAL DAYAK

 Mandau

Foto: Wikipedia/Tropenmuseum


Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat. Di samping itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan diikatkan pada pinggang mereka.

Masyarakat Dayak tradisional mempercayai mandau memiliki unsur magis. Senjata ini dipakai untuk berperang. Mandau juga digunakan sebagai perlengkapan upacara dan tarian adat.

Suku Dayak, seperti masyarakat tradisional Nusantara lainnya, dekat dengan alam. Mereka menganggap alam sebagai ibu di mana mereka bergantung kepadanya. Hal ini mereka hayati sejak masa leluhur mereka. Hubungan mereka dengan alam yang harmonis inilah kiranya yang menjadi sumber dari kekuatan magis mandau.

Sering kali orang terkecoh antara mandau dan parang atau yang disebut ambang atau apang. Seorang yang tidak terbiasa akan dengan mudah mengira bahwa ambang atau apang adalah mandau karena memang bentuknya sama. Namun bila diperhatikan lebih seksama perbedaan akan ditemukan, yaitu mandau lebih kuat dan lentur karena terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dengan proses pengolahan sedemikian rupa, sedangkan ambang atau apang terbuat dari besi biasa. Mandau bertatah, atau berukir dengan menggunakan emas, perak atau tembaga sedangkan ambang atau apang hanya terbuat dari besi biasa.

Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau dirawat dengan baik karena diyakini bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi mereka dari serangan dan maksud jahat lawan. Di samping itu diyakini bahwa mandau dijaga oleh seorang perempuan, yang apabila pemilik mandau bermimpi dijumpai perempuan penunggu mandau, berarti rezeki.

Mandau selain dibuat dari besi batu gunung dan diukir, pulang atau hulu mandau yang biasa disebut pulang mandau juga dibuat berukir dengan menggunakan tanduk rusa untuk warna putih dan tanduk kerbau untuk warna hitam Namun dapat pula dibuat dengan menggunakan kayu kayamihing. Untuk memproses pembuatan pulang mandau dengan kayu kayamihing terlebih dahulu batang kayu yang akan digunakan tersebut direndam dalam tanah luncur yaitu tanah yang ditemukan di daerah pantai. Dibagian ujung pulang mandau diberi bulu binatang atau rambut manusia. Untuk merekatkan mandau dengan pulangnya digunakan getah kayu sambun yang telah terbukti daya rekatnya.

Setelah pulang dan mandau terikat dengan baik, baru kemudian diikat lagi dengan jangang. Kemampuan daya tahan jangang tidak perlu diragukan, namun apabila jangang sulit ditemukan dapat diganti dengan anyaman rotan.

Rupa
Mandau memiliki tiga bagian, yaitu isin/loneng, pulang/hulu, dan sarukng. Isin/loneng adalah batang mandau. Panjangnya sekitar 50 cm, lebar pangkal 2 cm, dan lebar ujung sekitar 5 cm. Adapun beratnya sekitar 335 gram.

Isin/loneng terdiri dari dua sisi utama, bagian punggung yang tumpul dan bagian bawah yang sangat tajam. Isin semakin ke ujung akan semakin lebar dan pada pangkalnya dipasangi pulang (ukiran indah).

Pulang memiliki lubang-lubang sering ditutupi dengan lapisan dari tembaga ataupun kuningan. Hal ini dimaksudkan untuk memperindah rupa mandau. Bentuk-bentuk ukiran pada Mandau pun berbeda-beda pada banyak suku. Biasanya didasarkan kepada ukiran yang khas dari daerah masing-masing (sub-suku  Dayak) dan menjadi pembeda antar satu sama lain.

Adapun hulu mempunyai dua nilai penting, yakni sebagai pegangan atau tangkai senjata dan  juga sebagai karakter senjata itu sendiri. Bentuk dasar hulu biasanya menyerupai binatang berkaki empat, burung ataupun binatang lainnya.

Dari hulu ini pulalah nilai sejarah suatu suku dipatrikan. Oleh karenanya, seorang dayak memiliki kebanggaan terhadap mandau yang dimilikinya.

Aksesori
Sarukng (sarung) mandau disebut juga kumpang. Terbuat dari kayu dan dilapisi tanduk rusa. Biasanya ia diberi ukiran pula. Selain itu, kumpang diberi tempuser undang, yakni tali ikat yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Tali ini akan diikatkan di pinggang sang pemilik.

Turut diikat pula pada kumpang sebuah sarung berisi pisau raut penajam mandau. Sarung ini terbuat dari kulit kayu dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Adapun pisau raut ini bernama langgei puai (anak mandau).

Bahan baku
Literatur di Museum Balanga, Palangka Raya, mengatakan bahwa bahan baku mandau adalah besi (Sanaman) Mantikei. Bahan ini terdapat di hulu sungai Mantikei, Desa Tumbang Atei, Sanaman Matikei, Katingan. Besinya lentur sehingga dapat dibengkokkan.

Bahannya yang spesial membuat harga senjata ini tidak murah. Mandau asli yang paling murah sekitar 1 juta rupiah. Bila ia berusia tua dan besinya amat kuat, harganya dapat mencapai 20 juta.

Selain besi Mantikei, bahan bakunya dapat pula menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan batang besi lain.

Besi mantikei banyak ditemukan di daerah :

  • Di Kereng Gambir, sungai Koro Jangkang, Sungai Mantikei anak Sungai Samba simpangan Sungai Katingan.
  • Batu Mujat dan Batu Tengger yang terdapat disekitar Pasir Tanah Grogot.
  • Di hulu Sungai Mahakam sekitar Long Tepat dan Long Deho, serta sekitar Long Nawang dan Long Pahangai (Kalimantan Timur)
  • Batu Montalat yang terdapat di hulu Sungai Montalat anak Sungai Barito (Kabupaten Barito) di daerah Saripoi Barito Hulu.
  • Di hulu Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) di udik Putu Sibau.
  • Di hulu Sungai Baram, daerah Kucing (Serawak Kalimantan Utara).

Dibutuhkan kemampuan memilih bebatuan yang mengandung besi bila mengawali pekerjaan ini. Kemudian bebatuan yang terkumpul mereka masak dalam tumpukan ranting-ranting dan daun kering dengan menggunakan alat yang disebut puputan, hingga batu-batuan itu bernyala. Dalam keadaan bernyala, bebatuan dimasukkan ke dalam air, bebatuan mendidih di air, dan terurai. Butir-butiran besi yang dihasilkan diolah menjadi bahan pembuatan mandau. Besi mantikei sangat keras, tajam, dan elastis, juga mengandung bisa, disamping itu mahluk halus yang punya maksud jahat takut pada daya magis yang dimiliki oleh besi mantikei tersebut.

Membuat Mandau dengan besi mantikei prosesnya lebih mudah karena pemanasan cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang. Setelah sekali dipanaskan, sekali dicelupkan ke dalam air, yang biasa disebut suhup lewa, besi mantikei tersebut dapat segera diproses menjadi bentuk mandau yang diinginkan. Dari tetek tatum diketahui bahwa mereka yang mampu mengolah besi batu gunung menjadi mandau hanyalah Pangkalima Sempung dan Bungai serta anak turunannya saja.

Kumpang mandau ialah sarung mandau. Kumpang mandau dibuat dari batang pohon kayu bawang, atau kayu garunggung yang telah tua usianya. Pada umumnya ketika membuat kumpang lebih cendrung dipilih bahan kayu garunggung karena selain mudah dibentuk, juga tidak mudah pecah. Bagian ujung kumpang mandau tempat masuknya mata mandau dilapisi tanduk rusa. Pada kumpang mandau diberi tiga tempuser undang yaitu tiga ikatan yang terbuat dari anyaman rotan. Apabila Tempuser undang berjumlah empat buah berarti mandau tersebut adalah milik pangkalima. Ukiran yang populer digunakan pada kupang mandau ialah ukiran Rambunan Tambun.

Peralatan pada saat membuat kumpang mandau ialah rautan, pisau, jujuk, dan daun ampelas. Agar kumpang mandau menjadi halus dan licin lalu diampelas dengan sejenis daun berbulu yang bernama bajakah tampelas. Pada kumpang mandau biasanya diberi hiasan manik-manik, atau bulu-bulu burung seperti burung haruei, burung tingang, burung tanjaku atau burung baliang.

Kumpang mandau diberi tali yang terbuat dari anyaman rotan. Guna tali untuk mengikat mandau di pinggang karena memang demikianlah cara tepat membawa mandau. Cara memakai mandau yang benar ialah diikat dipinggang kiri, kupang mandau arah kedepan, dan mata mandau menghadap ke atas. Tali kumpang selain dipakai untuk mengikat mandau pada pinggang juga tempat mengikat dan menyimpan penyang yaitu taring-taring binatang dan benda-benda kecil bertuah sebagai jimat.

Pada bagian depan kumpang dibuat sarung kecil untuk menyimpan langgei Puai. Langgei Puai ialah sejenis pisau kecil pelengkap mandau. Tangkainya panjang sekitar dua puluh sentimeter dan mata pisaunya berbentuk lebih kecil dari tangkainya. Bentuk mata pisau semakin ke ujung semakin runcing dan sangat tajam. Gunanya untuk membersihkan dan menghaluskan benda-benda seperti rotan, juga berfungsi untuk mengeluarkan duri yang terinjak di telapak kaki, karena di masa yang telah lalu orang Dayak berkelana di hutan tanpa alas kaki. Sarung atau kumpang langgei melekat pada sarung atau kumpang mandau, sehingga mandau dan langgei Puai selalu dekat tak terpisahkan.

Beberapa model mandau yang dikenal antara lain :

  • Model mata mandau Bawin Butung, model hulu mandau, pulang kayuh.
  • Model mata mandau Hatuen Balui, model hulu mandau pulang kayuh.
  • Model mata mandau bawin Balui, model hulu mandau pulang kayuh.
  • Model Bawen Buhu. Bertatah tiga baris, dibagian ujung mandau juga diberi ukiran. Model pulang kayuh Neneng.
  • Model Butung Bahun Badulilat. Bertatah dua baris. Mandau jenis ini harganya sangat mahal.
  • Model Birang. Polos tanpa tatah, dengan pulang model kamau.

Mandau asli mempunyai penyang (ilmu kesaktian suku Dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang). Penyang akan membuat orang yang memegangnya menjadi sakti, kuat, dan kebal dalam menghadapi musuh.

Mandau dan penyang adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun-temurun dari leluhur.

Senjata ini sangat lekat dengan unsur spiritual dan mitologi. Beberapa mandau pusaka diyakini memiliki kekuatan magis atau sakti, bahkan dalam cerita rakyat suku Dayak dikenal istilah mandau terbang yang dapat bergerak sendiri untuk melindungi pemiliknya.

Saat ini, mandau tidak hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari atau ritual adat, tetapi juga sering dikoleksi sebagai benda seni dan suvenir. 

Sumber Buku Maneser Panatau Tatu Hiang, dll

Minggu, 31 Mei 2026

 Pandangan Orang Dayak Ngaju Terhadap 
Tamu Asing dan Pendatang Baru


Masyarakat Dayak Ngaju dikenal memiliki rasa hormat yang sangat tinggi terhadap tamu dari luar daerah maupun para pendatang baru. Berdasarkan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun, seorang tuan rumah akan menyambut dan memberikan pelayanan terbaik kepada tamunya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Kehangatan ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui beberapa situasi berikut:

  • Sapaan Hangat
    Jika ada tamu dari desa lain atau tempat yang jauh datang pada pagi atau siang hari, tuan rumah dengan senang hati akan menjamunya. Setidaknya, mereka akan menyuguhkan teh, kopi, atau camilan sederhana yang tersedia di rumah.

  • Ketulusan di Malam Hari
    Apabila ada musafir yang datang pada sore atau malam hari untuk menumpang menginap, tuan rumah akan menyambutnya dengan tangan terbuka setelah memastikan bahwa tamu tersebut berniat baik. Jika tamu belum makan malam, tuan rumah dan keluarga akan tulus menyajikan makanan seadanya. Bahkan, sekalipun sisa beras di dapur hanya cukup untuk sekali makan, mereka rela memasaknya demi menjamu sang tamu. Tuan rumah juga tidak ragu menyiapkan tempat tidur di ruang depan, bahkan merelakan kasur dan bantal mereka sendiri demi kenyamanan tamu.

  • Keterbukaan terhadap Pendatang Baru
    Bagi pendatang baru yang berniat menetap sementara waktu karena tugas atau pekerjaan, warga akan menyambutnya dengan sikap yang ramah dan lembut. Sikap ini sudah mengakar sejak lama. Pada awal abad ke-20 hingga sekitar tahun 1970-an, desa-desa yang sering disinggahi pelancong bahkan menyediakan "pesanggrahan" (rumah singgah) berukuran sekitar 4 x 6 meter yang bisa digunakan untuk menginap secara gratis.



Ritual "Tetek Pantan": Tradisi Menyambut Tamu Terhormat

Dalam tradisi Dayak Ngaju, Tamu Terhormat merujuk pada Pejabat Negara atau Pemerintah (seperti Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Dirjen, Gubernur, Bupati, Walikota, dan sejenisnya), serta Tokoh Politik atau Tokoh Masyarakat yang berwibawa.

Ketika bersilaturahmi, para tamu agung ini akan disambut dengan upacara adat khusus yang disebut Acara "Tetek Pantan". Dalam bahasa Dayak Ngaju, Tetek berarti memotong, sedangkan Pantan berarti penghalang. Meski tidak semua ritualnya berupa memotong kayu penghalang, istilah Tetek Pantan telah menjadi nama populer untuk upacara penyambutan ini.

Untuk melaksanakan tradisi ini, sebuah pintu gerbang yang dihiasi janur dan aneka bunga akan didirikan. Di gerbang itulah atribut "Pantan" ditempatkan. Setelah pantan dipotong atau dipindahkan oleh sang tamu, barulah mereka dipersilakan melangkah masuk ke lokasi acara.

Dalam Adat Dayak Ngaju terdapat 7 (tujuh) macam "pantan" sebagai berikut :

  • Pantan Kayu
    Untuk bahan pantan kayu dipilih jenis kayu lemah dengan ukuran diameter ± 10-15 cm dan panjang ± 3 meter. Kayu tersebut ditempatkan menghalang jalan masuk tamu pada pintu gerbang. Biasanya sebelum dipotong oleh tamu, kayu pantan tersebut ditutupi terlebih dahulu dengan kain batik panjang (bahalai).
    Documentasi : jadesta - Pariwisataindonesia.id

    Acara Tetek Pantan tersebut dipimpin oleh Damang Kepala Adat. Apabila Damang Kepala Adat berhalangan dapat diganti oleh Tokoh Adat lainnya. Setelah "bahalai" diangkat dari atas kayu pantan, Damang Kepala Adat menyerakan sebuah "mandau" (golok tradisional Dayak) sebagai alat pemotong pantan. Menggunakan mandau tersebut, tamu terhormat dipersilahkan memotong kayu pantan sampai putus.

    Sebelum acara "Tetek Pantan" dimulai dan sembari pemotongan pantan oleh tamu, terjadi dialog antara Damang Kepala Adat dengan Tamu Terhormat tersebut berkisar tentang maksud dan tujuan kedatangan sang tamu. Setelah pantan terpotong barulah tamu dan rombongan dipersilahkan berjalan masuk kearena Acara Penyambutan dipintu masuk tamu terse-but di "tampung tawar" oleh Damang Kepala Adat.

  • Pantan Tewu
    Bahasa Dayak Ngaju kata "Tewu" berarti tebu. Acara pantan tewu ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Sungain Katingan. Rangkaian acara sama seperti pelaksanaan pantan kayu.

Documentasi : Anna - MC Kota Palangka Raya


  • Pantan Garantung
    Garantung berarti gong. Jadi dalam Pantan Garantung, benda yang menjadi penghalang dipintu gerbang adalah beberapa buah gong, jumlahnya antara 3 (tiga) buah, 5 (lima) buah atau 7 (tujuh) buah garantung. Garantung di jejerkan dipintu gerbang acara dan ditutup dengan kain batik panjang (bahalai).
    Pertama-tama sang tamu mengangkat kain batik panjang (bahalai) tersebut, kemudian memindahkan semua gong tersebut kepinggir jalan. Setelah itu tamu dan rombongannya dipersilahkan masuk ketempat acara penyambutan.

  • Pantan Balanga
    Balanga adalah guci yang mahal buatan Cina berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Jumlah balanga yang dipergunakan sebagai alat pantan antara 3 (tiga) balanga, 5 (lima) balanga atau 7 (tujuh) balanga.
    Diatas permukaan balanga ditutup dengan kain batik panjang (bahalai). Sang tamu berkewajiban mengangkat kain bahalai tersebut dari permukaan balanga, kemudian memindahkan seluruh balanga tersebut kesamping. Setelah itu para tamu dipersilahkan memasuki tempat acara penyambutan tamu.

    Documentasi : IAHN Tampung Penyang Palangka Raya

  • Pantan Garantung dan Balanga
    Barang untuk pantan berupa beberapa buah garantung (gong) dan beberapa buah balanga (guci).
    Tamu Terhormat tersebut pertama-tama memindahkan kain batik panjang (bahalai) dari permukaan garantung dan balanga, kemudian memindahkan semua garantung dan balanga tersebut kesamping, setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongan memasuki arena penyambutan tamu.

  • Pantan Timpung
    Bahan pantan timpung adalah kain yang dipasang seperti gorden pintu. Pada kedua sisi bagian tengah kain tersebut disatukan dengan benang. Sang Tamu harus memotong benang tersebut dengan menggunakan gunting atau alai pemotong lainnya sehingga kain pantan dapat terbuka. Setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongannya memasuki arena penyambutan.

  • Pantan Bulan
    Dewasa ini pantan bulan lebih merupakan legenda saja oleh karena tidak pernah lagi dilaksanakan.
    Dalam pantan bulan, yang menjadi penghalang tamu masuk pada pintu gerbang adalah sejumlah gadis-gadis yang berdiri berjejer. Jumlah gadis-gadis tersebut antara 3 (tiga) orang gadis, 5 (lima) orang gadis atau 7 (tujuh) orang gadis. 
Dibawah pimpinan Damang Kepala Adat, tamu terhormat yang bersangkutan menarik dan memisahkan gadis-gadis tersebut sampai pintu gerbang terbuka. Pada zaman dulu, sang tamu dapat memilih salah satu dari gadis tersebut untuk diajak mendampinginya masuk kearena penyambutan tamu.

Bagaimana penyambutan dan sikap ramah yang ditunjukan oleh warga masyarakat Dayak Ngaju, bagaimana mereka memandang orang asing atau pendatang baru serta bagaimana adat mereka menyambut tamu terhormat yang berkunjung adalah menjadi bukti bahwa warga masyarakat Dayak Ngaju sangat peduli dan hormat kepada tamu dan orang lain yang datang ketempat mereka.

Namun demikian sikap ramah dan hormat tersebut akan berubah drastis apabila kemudian ternyata tamu, orang asing atau pendatang baru tersebut menunjukan perilaku yang bertentangan atau melanggar Adat Istiadat maupun Hukum Adat yang mereka hormati dan dipertahankan sebagai salah satu entitas Suku Dayak.

Minggu, 13 September 2020

Bukit Batu "Jejak Sejarah" terbentuknya Kalimantan Tengah




Bukit Batu merupakan salah satu objek wisata yang menjadi daya tarik wisatawan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, terbilang unik karena tidak hanya menjadi objek wisata, banyak juga warga yang datang untuk menggelar ritual di sana.

Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-batu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.

Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.

Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.

Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:

"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"

Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.

Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.

Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.

Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menunu ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.

Kamis, 10 September 2020

Mengenal Sosok “GEORGE OBOS” [Pahlawan/Sejarah]

 


I. Pendahuluan
Sampai saat ini banyak masyarakat Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya yang belum tahu asal usul penamaan Jalan G. Obos.
Jalan G. Obos di Kota Palangka Raya ada karena untuk mengenang salah satu Pahlawan Perintis Kemerdekaan, yang kalau tidak singkat menjadi George Obos, namun untuk penulisan namanya masih salah. menurut Buku Sejarah Palangka Raya, Penulisan dan pelafalan nama yg benar berdasarkan sumber pustaka adalah George Obus, beliau lahir Hari Rabu, tanggal 24 Desember 1902. Lahir di Kasongan Kabupaten Katingan yang di sebut dalam bahasa Dayak Kuno "Tewang Sangalang Garing".
Menurut Teddy Toeweh, yang merupakan keturunan dari G.Obos, nama asli kakeknya yang benar adalah George Obus Umar. Kata Umar diambilkan dari nama ayahnya, yaitu Heine Umar. Saat penjajahan Belanda, kata Umar dihilangkan.
“Tidak dicantumkannya nama Umar karena untuk melindungi keluarganya dari buruan penjajah. Sebab nama keluarganya di Kalimantan banyak yang memakai kata Umar. Takutnya keluarganya ikut ditangkap, makanya supaya keluarganya tetap aman, maka kata Umar dalam nama G Obus tidak dicantumkan,” tutur Teddy Toeweh saat diskusi Jejak G. Obos, beberapa waktu lalu.

Pada tahun 1926 G.Obus lulus dari Zeevaart School (Sekolah Pelayaran) di Surabaya. Dan juga menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Bahasa Jepang (Koto Nipponggo Gakko) di Surabaya. Pada masa itu mulai timbul pergerakan kebangkitan Asia dengan munculnya kesadaran untuk berorganisasi.

II. Perjuangan Sebelum Kemerdekaan
Kesadaran berorganisasi pun mulai menimbulkan ide bagi para pemuda Kalimantan (Borneo) yg berada di Jawa. Maka tanggal 21 Mei 1926 berdiri organisasi Pemuda Borneo di Surabaya dan menunjuk George Obus sebagai Komisaris untuk wilayah Kalimantan Selatan (Borneo Selatan - pada saat ini menjadi Kalsel dan Kalteng). Dalam gerakan kepemudaan, G. Obus (berdarah Dayak) bersama Masri (berdarah Banjar) menjadi wakil Persatuan Pemuda Borneo yg berkedudukan di Surabaya , dalam kongres Pemuda 1928. Yg terkenal menghasilkan "Soempah Pemoeda."
Pada tanggal 8 Juni 1929 di Surabaya berdiri Partai Politik dgn nama Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) , yg di ketuai oleh Dr. Soetomo. Dlm susunan kepengurusan PBI , G.Obus duduk dalam pengurus inti . Setelah 6 tahun PBI di bentuk dilakukan musyawarah besar bersama Boedi Oetomo dan Pengurus Besar PBI di Surakarta. Dalam musyawarah ini menghasilkan kesepakatan untuk bergabung, kemudian membentuk Partai Indonesia Raya (PARINDRA) . Dlm PARINDRA ini G.Obus menjadi satu Pengurus.

Pada bulan Juni 1944, organisasi Pemuda Kalimantan (Borneo) yg dipelopori G. Obus bersama pengurus lain seperti Gusti Mayur, H. Abdulgamasir, H. Mugeni Tayib, mengadakan pertemuan menyusun strategi mempersiapkan perlawanan thdp pendudukan Jepang. Seiring kekalahan Jepang thdp sekutu, pd tgl 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan Kemerdekaannya.

III. Perjuangan Merpertahankan Kemerdekaan
Bulan September 1945, G. Obus terpilih sebagai ketua Badan Oesaha Gobernur Boerneo (BPOG). BPOG bersama PRIK (Pemuda Republik Indonesia Kalimantan) menyusun rencana untuk mengirimkan ekspedisi ke Kalimantan dgn menggunakan Kapal Laut, maka G. Obus selaku ketua BPOG di dampingi Gusti Mayur berangkat ke Bandung menghadap Gubernur Kalimantan Selatan, Ir. P.M. Noor. Kemudian mereka kembali ke Surabaya, dimana suasana mulai kacau dan siap tempur melawan tentara Jepang.

Tanggal 19 September 1945 Terjadi peristiwa Hotel Oranye (Hotel Yamato - Surabaya). Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Pluegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak sebelah kanan hotel. Para pejuang Indonesia melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda, yang berwarna merah, putih dan biru, dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Republik Indonesia. Insiden bendera itu juga mengakibatkan terbunuhnya Mr. Pluegman. Para pejuang Kalimantan yg tergabung dlm PRIK dan BPOG juga melakukan penyerangan thd markas-markas tentara Jepang dan gedung Kenpeitai. Merampas senjata dalam jumlah yg banyak.

Kedatangan Sekutu dan NICA di Surabaya yg dimulai dr September sampai November 1945. Disambut dgn pertempuran di beberapa front , dimana anggota Pemuda Kalimantan (Borneo) yg tergabung dalam PRIK dan BPOG ikut dalam pertempuran tersebut. Selain itu BPOG juga sibuk melakukan mengirimkan ekspedisi ke Kalimantan dgn Kapal bernama "Merdeka" , walaupun kapal "Merdeka" rusak ditembaki tentara Sekutu , tp pengiriman ekspedisi ke Kalimantan masih dilakukan dgn menggunakan Kapal Layar. Pada pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya , G. Obus ikut berjuang mempertahankan front Utara (daerah Pelabuhan sekarang ). Pada akhir Desember 1945, BPOG dibubarkan dan dibentuklah Ikatan Pejuang Kalimantan (IPK).

Pada tanggal 4 April 1946 Staf Pimpinan ALRI Divisi IV Kalimantan dilantik di Mojokerto :

- Komandan : Letnan Kolonel Djakaria Makdun
- Kepala Staf : Mayor Firmansjah
- Kepala Keuangan Merangkap S.O.I. MB ALRI : Mayor George Obus
- Kepala Staf I : Letnan I A. Zaidi
- Kepala Ketentaraan : Kapten Anang Pieter
- Keuangan : Letnan I Achmad Sarwani
- Tata Usaha : Letnan I H. Sirat
- Penghubung Divisi Dengan MB ALRI : Kapten Beyk
- Wakil Tata Usaha : Letnan II Gusti Anawar
- Perlengkapan : Letnan II Darmansjah

Markas Besar ALRI Divisi IV Kalimantan di Mojokerto, kemudian membagi daerah Kalimantan atas 3 daerah ALRI, yaitu Divisi IV pertahanan A untuk daerah Kalimantan Selatan (termasuk Kalteng sekarang), ALRI Divisi IV B di daerah Kalimantan Barat, ALRI Divisi IV C di daerah Kalimantan Timur.

G. Obus dgn Pangkat Letnan Kolonel Angkatan Laut RI (ALRI) ditugaskan menjadi staf ALRI divisi IV bagian Intelejen merangkap Staf IV/Intelijen Mabes TNI-AD sampai thn 1951. Pada thn 1951 G. Obus Diangkat menjadi anggota KNIP berdasarkan keputusan Presiden RI no 38 thn 1951 dgn domisili Yogyakarta.

Tugas G. Obus dlm KNIP adalah melakukan pendekatan kpd Pemerintah Negara Federasi RIS di Kalimantan yaitu : Dewan Dayak Besar , Federasi Kalimantan Timur , Dewan Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara dan Daerah Istimewa Kalimantan Barat untuk bergabung kembali ke RI. Dlm tugasnya 4 Negara Federasi RIS menyatakan siap bergabung , kecuali Daerah Istimewa Kalimantan Barat.

IV. Di Kalimantan
Pada tanggal 29 Juni 1950 ditandai dgn keputusan Menteri Dalam Negeri No : C.17/15/3 ttg pembentukan Daerah yg berhak mengatur rumah tangganya sendiri maka ditetapkanlah G. Obus sbg Bupati Kepala Daerah Kabupaten Barito Utara masa bakti 1951-1954 (kemudian tgl ini menjadi hari jadi Kabupaten Barito Utara ).

Berdasarkan ketentuan ketentuan UU Darurat no. 3 thn 1953 thn 1953. Lembaran negara No.9 tahn 1953 , Tambahan lembaran Negara No. 352, maka kabupaten Kapuas yg meliputi Kawedanan-kawedanan Kapuas , Kahayan dan Dayak Hulu sebagaimana Keputusan Menteri Dalam Negeri No C17/15/3 jo.- No Pem 20/1/147 - Jo Keputusan Menteri Dalam Negeri tgl 8 September 1951 No Pem 20/6/10 . Sehubungan dgn ini maka G. Obus diangkat menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas. Masa bakti 1956-1958 menggantikan R. Badrus Sapari.

Bulan Desember 1953 sebuah delegasi tokoh-tokoh DAYAK yg dipimpin oleh bupati Barito , George Obus melakukan pertemuan dgn C. Simbar. Sebuah kesepakatan telah tercapai, sebab hari berikutnya CHRISTIAN SIMBAR menyerah dengan 129 pengikutnya (Indonesia Berdjuang 05-12-1953,06-12-1953).

V. Pembentukan Provinsi Kalteng
Keinginan Pembentukan Propinsi Otonom Kalimantan Tengah yang meliputi 3 kabupaten yaitu Kapuas, Barito dan Kotawaringin, akhirnya disetujui oleh pemerintah RI. Pada tanggal 28 Desember 1956 Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan nomor U.P.34/41/24 yang antara lain menyatakan terbentuknya Kantor Persiapan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah yang berkedudukan langsung dibawah Kementrian Dalam Negeri. Kantor persiapan tersebut untuk sementara ditempatkan di Banjarmasin serta ditunjuk 21 orang personil sebagai pelaksana dan sementara berkantor di kantor gubernur Kalimantan.

Gubernur RTA Milono ditunjuk sebagai Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah. Pelaksana tugas-tugas yang menyangkut urusan Pemerintah Pusat ,bertanggung jawab langsung kepada Menteri Dalam Negeri sedang urusan Daerah Otonom, bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Selatan. Selanjutnya Tjilik Riwut (pada waktu menjabat sebagai Residen pada Kementerian Dalam Negeri) dan George Obus Bupati Kepala Daerah Kapuas, ditugaskan membantu Gubernur Pembentuk provinsi Kalimantan Tengah di Banjarmasin, sekaligus Bupati G.Obus diangkat sebagai Kepala Kantor Persiapan Kalimantan Tengah. Drs F.A.D Patianom ditunjuk sebagai Sekretaris Kantor Persiapan Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah. Residen Tjilik Riwut dan Bupati G Obus membantu Gubernur RTA Milono agar pembentukan propinsi Otonom Kalimantan Tengah dapat terlaksana dalam waktu secepatnya.

Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah R.T.A. Milono selanjutnya mengambil suatu kebijaksanaan membentuk Panitia untuk merumuskan dan mencari dimana daerah atau tempat yang pantas/wajar untuk dijadikan Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah. Panitia yang dibentuk pada tanggal 23 Januari 1957 terdiri dari :
a. Mahir Mahar, Ketua Kongres Rakyat kalimantan Tengah, sebagai Ketua merangkap Anggota.
b. Tjilik Riwut, Residen pada Kementerian dalam Negeri diperbantukan pada Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah, sebagai Anggota.
c. G. Obus, Bupati Kepala Daerah diperbantukan pada Gubernur PembentukPropinsi Kalimantan Tengah, sebagai Anggota.
d. E. Kamis, Pensiunan Korps Pamong Praja/kiai (Wedana) dan Pimpinan PT Sampit Dayak di Sampit, sebagai Anggota.
e. C. Mihing, Pegawai/Pejabat pada Jawatan Penerangan Propinsi Kalimantan di Banjarmasin sebagai Sekretaris merangkap Anggota,dan sebagai Penasihat ahli adalah :
a. R. Moenasier, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Persiapan Propinsi Kalimantan Tengah.
b. Ir. D.A.W. van Der Pijl, Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Persiapan Propinsi Kalimantan Tengah/Kepala Bagian Gedung-gedung.
Yang kemudian memutuskan Pahandut (Palangka Raya sekarang, yang pada saat itu masuk wilayah Kabupaten Kapuas) menjadi Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.

G.Obus ditunjuk sebagai Bupati Barito dan Bupati Kapuas 1956-1958
Pada tahun 1960-1967 George Obus menjadi anggota MPRS.

VI. Penutup
Pada Senin tanggal 19 April 1982 pukul 19.30 WIB , rakyat Kalimantan Tengah berduka, dengan wafatnya seorang putera terbaiknya. George Obus wafat di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin karena menderita sakit, dimakamkan di komplek pekuburan Kristen, Pahandut, Kota Palangka Raya. Pada saat wafat , George Obus meninggalkan seorang Istri (Emilie Hillep), 9 anak ( 5 laki-laki dan 4 perempuan ), 37 Cucu dan 10 Cicit.

*Catatan : George Obus juga sering disapa dgn nama Bapa Ferdy .

VII Daftar Bintang Jasa
1. Bintang Gerilya
2. Satyalencana Perang Kemerdekaan I
3. Satyalencana Perang Kemerdekaan II
4. Satyalencana GOM I
5. Satyalencana GOM II
6. Satyalencana GOM IV
7. Satyalencana Penegakan Kemerdekaan RI

Selain itu, George Obus oleh Pemerintan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah , diabadikan namanya menjadi nama Jalan Besar di Kota Palangka Raya ( Jalan G. Obos )

SEKIAN

Daftar pustaka :

  • Buku "Sejarah Kota Palangkaraya" 2003
  • Buku "Dari DAS Sungai Katingan lahir pejuang dan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia G. Obus" pengarang T.T. Suan
  • Buku "Sejarah Kabupaten Kapuas (Kalteng) : berdirinya kota Kuala Kapuas dan terbentuknya Kabupaten Kapuas"
  • Diskusi Jejak G Obos
  • Foto Dokumen IJTI Kalteng (Diskusi Jejak G Obos)
  • Folk Of Dayak


ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

  ANJING DALAM BUDAYA DAYAK                                                                           image : footage.framepool.com Anjing a...