Pandangan Orang Dayak Ngaju Terhadap
Tamu Asing dan Pendatang Baru
Masyarakat Dayak Ngaju dikenal memiliki rasa hormat yang sangat tinggi terhadap tamu dari luar daerah maupun para pendatang baru. Berdasarkan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun, seorang tuan rumah akan menyambut dan memberikan pelayanan terbaik kepada tamunya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
Kehangatan ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui beberapa situasi berikut:
- Sapaan HangatJika ada tamu dari desa lain atau tempat yang jauh datang pada pagi atau siang hari, tuan rumah dengan senang hati akan menjamunya. Setidaknya, mereka akan menyuguhkan teh, kopi, atau camilan sederhana yang tersedia di rumah.
- Ketulusan di Malam HariApabila ada musafir yang datang pada sore atau malam hari untuk menumpang menginap, tuan rumah akan menyambutnya dengan tangan terbuka setelah memastikan bahwa tamu tersebut berniat baik. Jika tamu belum makan malam, tuan rumah dan keluarga akan tulus menyajikan makanan seadanya. Bahkan, sekalipun sisa beras di dapur hanya cukup untuk sekali makan, mereka rela memasaknya demi menjamu sang tamu. Tuan rumah juga tidak ragu menyiapkan tempat tidur di ruang depan, bahkan merelakan kasur dan bantal mereka sendiri demi kenyamanan tamu.
- Keterbukaan terhadap Pendatang BaruBagi pendatang baru yang berniat menetap sementara waktu karena tugas atau pekerjaan, warga akan menyambutnya dengan sikap yang ramah dan lembut. Sikap ini sudah mengakar sejak lama. Pada awal abad ke-20 hingga sekitar tahun 1970-an, desa-desa yang sering disinggahi pelancong bahkan menyediakan "pesanggrahan" (rumah singgah) berukuran sekitar 4 x 6 meter yang bisa digunakan untuk menginap secara gratis.
Ritual "Tetek Pantan": Tradisi Menyambut Tamu Terhormat
Dalam tradisi Dayak Ngaju, Tamu Terhormat merujuk pada Pejabat Negara atau Pemerintah (seperti Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Dirjen, Gubernur, Bupati, Walikota, dan sejenisnya), serta Tokoh Politik atau Tokoh Masyarakat yang berwibawa.
Ketika bersilaturahmi, para tamu agung ini akan disambut dengan upacara adat khusus yang disebut Acara "Tetek Pantan". Dalam bahasa Dayak Ngaju, Tetek berarti memotong, sedangkan Pantan berarti penghalang. Meski tidak semua ritualnya berupa memotong kayu penghalang, istilah Tetek Pantan telah menjadi nama populer untuk upacara penyambutan ini.
Untuk melaksanakan tradisi ini, sebuah pintu gerbang yang dihiasi janur dan aneka bunga akan didirikan. Di gerbang itulah atribut "Pantan" ditempatkan. Setelah pantan dipotong atau dipindahkan oleh sang tamu, barulah mereka dipersilakan melangkah masuk ke lokasi acara.
Dalam Adat Dayak Ngaju terdapat 7 (tujuh) macam "pantan" sebagai berikut :
- Pantan KayuUntuk bahan pantan kayu dipilih jenis kayu lemah dengan ukuran diameter ± 10-15 cm dan panjang ± 3 meter. Kayu tersebut ditempatkan menghalang jalan masuk tamu pada pintu gerbang. Biasanya sebelum dipotong oleh tamu, kayu pantan tersebut ditutupi terlebih dahulu dengan kain batik panjang (bahalai).Acara Tetek Pantan tersebut dipimpin oleh Damang Kepala Adat. Apabila Damang Kepala Adat berhalangan dapat diganti oleh Tokoh Adat lainnya. Setelah "bahalai" diangkat dari atas kayu pantan, Damang Kepala Adat menyerakan sebuah "mandau" (golok tradisional Dayak) sebagai alat pemotong pantan. Menggunakan mandau tersebut, tamu terhormat dipersilahkan memotong kayu pantan sampai putus.Sebelum acara "Tetek Pantan" dimulai dan sembari pemotongan pantan oleh tamu, terjadi dialog antara Damang Kepala Adat dengan Tamu Terhormat tersebut berkisar tentang maksud dan tujuan kedatangan sang tamu. Setelah pantan terpotong barulah tamu dan rombongan dipersilahkan berjalan masuk kearena Acara Penyambutan dipintu masuk tamu terse-but di "tampung tawar" oleh Damang Kepala Adat.
- Pantan TewuBahasa Dayak Ngaju kata "Tewu" berarti tebu. Acara pantan tewu ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Sungain Katingan. Rangkaian acara sama seperti pelaksanaan pantan kayu.
Documentasi : Anna - MC Kota Palangka Raya
- Pantan GarantungGarantung berarti gong. Jadi dalam Pantan Garantung, benda yang menjadi penghalang dipintu gerbang adalah beberapa buah gong, jumlahnya antara 3 (tiga) buah, 5 (lima) buah atau 7 (tujuh) buah garantung. Garantung di jejerkan dipintu gerbang acara dan ditutup dengan kain batik panjang (bahalai).Pertama-tama sang tamu mengangkat kain batik panjang (bahalai) tersebut, kemudian memindahkan semua gong tersebut kepinggir jalan. Setelah itu tamu dan rombongannya dipersilahkan masuk ketempat acara penyambutan.
- Pantan BalangaBalanga adalah guci yang mahal buatan Cina berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Jumlah balanga yang dipergunakan sebagai alat pantan antara 3 (tiga) balanga, 5 (lima) balanga atau 7 (tujuh) balanga.Diatas permukaan balanga ditutup dengan kain batik panjang (bahalai). Sang tamu berkewajiban mengangkat kain bahalai tersebut dari permukaan balanga, kemudian memindahkan seluruh balanga tersebut kesamping. Setelah itu para tamu dipersilahkan memasuki tempat acara penyambutan tamu.Documentasi : IAHN Tampung Penyang Palangka Raya
- Pantan Garantung dan BalangaBarang untuk pantan berupa beberapa buah garantung (gong) dan beberapa buah balanga (guci).Tamu Terhormat tersebut pertama-tama memindahkan kain batik panjang (bahalai) dari permukaan garantung dan balanga, kemudian memindahkan semua garantung dan balanga tersebut kesamping, setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongan memasuki arena penyambutan tamu.
- Pantan Timpung
Bahan pantan timpung adalah kain yang dipasang seperti gorden pintu. Pada kedua sisi bagian tengah kain tersebut disatukan dengan benang. Sang Tamu harus memotong benang tersebut dengan menggunakan gunting atau alai pemotong lainnya sehingga kain pantan dapat terbuka. Setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongannya memasuki arena penyambutan. - Pantan BulanDewasa ini pantan bulan lebih merupakan legenda saja oleh karena tidak pernah lagi dilaksanakan.Dalam pantan bulan, yang menjadi penghalang tamu masuk pada pintu gerbang adalah sejumlah gadis-gadis yang berdiri berjejer. Jumlah gadis-gadis tersebut antara 3 (tiga) orang gadis, 5 (lima) orang gadis atau 7 (tujuh) orang gadis.
Bagaimana penyambutan dan sikap ramah yang ditunjukan oleh warga masyarakat Dayak Ngaju, bagaimana mereka memandang orang asing atau pendatang baru serta bagaimana adat mereka menyambut tamu terhormat yang berkunjung adalah menjadi bukti bahwa warga masyarakat Dayak Ngaju sangat peduli dan hormat kepada tamu dan orang lain yang datang ketempat mereka.
Namun demikian sikap ramah dan hormat tersebut akan berubah drastis apabila kemudian ternyata tamu, orang asing atau pendatang baru tersebut menunjukan perilaku yang bertentangan atau melanggar Adat Istiadat maupun Hukum Adat yang mereka hormati dan dipertahankan sebagai salah satu entitas Suku Dayak.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar