Kamis, 28 Mei 2026

Petatah Petitih Suku Dayak Ngaju



Petatah Petitih Suku Dayak Ngaju

Petatah-petitih Suku Dayak Ngaju adalah warisan sastra lisan yang memuat nilai moral, nasihat kehidupan, dan etos kerja. Diterapkan turun-temurun oleh masyarakat di sekitar Palangka Raya, ungkapan ini menjadi cerminan kebijaksanaan dan pandangan hidup masyarakat Dayak dalam bermasyarakat.

Berikut adalah beberapa petatah-petitih beserta maknanya:

Mahamen Mambesei, Jukung Bahantung

Arti: Malu mengayuh, perahu akan hanyut.

Makna: Seseorang harus bekerja keras, rajin, dan proaktif. Jika seseorang malas atau malu berusaha, kehidupannya tidak akan maju dan akan terbengkalai.


Kilau Ilmu Parei, Tambah Hasien Tambah Suntup

Arti: Seperti ilmu padi, makin berisi makin runduk.

Makna: Ajaran moral agar seseorang yang berilmu, pintar, atau berkedudukan tinggi harus tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri.


Kalah Jadi Kawu, Manang Jadi Buring

Arti: Kalah jadi abu, menang jadi arang.

Makna: Perselisihan atau sengketa tidak akan membawa kebaikan. Baik pihak yang kalah maupun menang akan sama-sama mengalami kerugian dan kesusahan, sehingga musyawarah lebih diutamakan.


Ampit Manak Tingang

Arti: Burung pipit beranak burung enggang.

Makna: Sebuah harapan dan doa bagi orang tua agar anaknya memiliki kehidupan, derajat, atau martabat yang jauh lebih tinggi dan mulia daripada orang tuanya.


Kilau Danum Intu Dawen Kujang

Arti: Seperti air di daun keladi.

Makna: Sindiran untuk orang yang memiliki pendirian labil, tidak teguh pada pendiriannya, dan mudah terombang-ambing oleh omongan orang lain.


Bujur-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)

Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi nyatanya pembohong)


Bisa bulue dia belange (Basah kulit tidak belangnya)

Rimae (artinya): Taloh gawi je dia mandinun hasil (Pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil)


Baka-bakas bua rangas (tua(tua buah rangas)

Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela (Walau pun sudah tua, tapi kerjanya seperti anak-anak).


Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan)

Rimae (artinyanya):Are pander jatun katotoe (besar mulut tanpa bukti).


Kalah batang awi sampange (kalau sungai karena anak sungainya)

Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian (Hilang arah semula karena ulah yang kemudian).


Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).

Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara (Kedewasaan dan kekuatan tak bisa kembali ke awal).


Tingang manganderang into bitie (Enggang menggema di dalam tubuhnya saja)

Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).


Ampit manak tingang (Pipit beranak enggang).

Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase. (Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtua).


Untuk mengenal lebih jauh khazanah budaya, bahasa, dan nilai-nilai luhur masyarakat Kalimantan Tengah, Anda dapat menelusuri literatur kebudayaan di repositori resmi milik Kemendikbudristek atau mengakses Kamus Dayak Ngaju untuk memperdalam maknanya.

Petatah Petitih Suku Dayak Ngaju

Petatah Petitih Suku Dayak Ngaju Petatah-petitih Suku Dayak Ngaju adalah warisan sastra lisan yang memuat nilai moral, nasihat kehidupan, da...