Senin, 08 Juni 2026

TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU

TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU

Dokumentasi : CU Betang Asi - ritual-dayak-pakanan-apui

Tawur Hasapa adalah tindak tutur sakral dalam budaya Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Dipimpin oleh tokoh adat (seperti Basir atau Mantir), ritual ini menggunakan media behas (beras) untuk menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta dan leluhur demi keselamatan, kesejahteraan, serta pembersihan wilayah dari roh jahat.

Tawur merupakan sebuah tindak tutur ritual untuk menyampaikan semacam permohonan; doa kepada Sang Pencipta dalam bahasa Dayak Kuno (Bahasa engasn / Sangiang) yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu untuk melakukan apa yang di luar nalar manusia. Sebagai sebuah permohonan atau doa kepada Sang Pencipta, ragam bahasanya harus baku dan tidak berubah-ubah sehingga pemaknaannya pun diharapkan tidak berbeda oleh Sang Pencipta.

Eksistensi tawur yang secara etimologis berarti tabur atau proses menabur sesuatu (utamanya dengan media beras kuning) dan sarana penyampaiannya adalah sebuah bahasa. Hampir semua aktivitas ritual Kaharingan menggunakan tawur dalam penyampaian maksud manusia, antara lain permohonan (doa) untuk kesembuhan, ucapan syukur, dan lain-lain. Namun, dalam hal ini hanya dibatasi pada eksistensi tawur sebagai pengukuhan sumpah yang dikenal sebagai “Tawur Hasapa”.

Hakikat Tindak Tutur 

Dalam perspektif antropolinguistik, Tawur bukan sekadar ucapan, melainkan komunikasi spiritual antara manusia dan manifestasi Tuhan (Ranying Hatalla Langit). Tindak tutur ini memiliki kuasa performatif untuk: 

  • Membuka jalan agar doa manusia sampai kepada Sang Pencipta. 
  • Mengaktifkan kekuatan gaib pada benda persembahan.
  • Memberikan perlindungan spiritual kepada masyarakat.
Makna Metaforik Behas (Beras)

Beras berfungsi ganda, baik sebagai medium fisik maupun lambang metaforik yang sakral.
  • Sarana Komunikasi: Ditaburkan ke udara sebagai perantara sampainya doa.
  • Simbol Dewa: Dipercaya melambangkan kesucian, keutamaan, dan kemurnian yang mampu menembus batas alam manusia dengan wujud tertinggi.
Behas (beras) dalam budaya Dayak Ngaju memiliki arti khusus selain sebagai makanan pokok, penunjang hidup, juga berperan sebagai media komunikasi antara manusia dengan Ranying Hatalla (Wujud Tertinggi).  Itulah sebabnya dalam setiap ritual adat beras selalu ada.

Dalam ritual adat beras biasanya ditaburkan ke udara, ke atas kepala manusia, maksudnya agar dewi dan dewa padi ikut menghadiri acara yang sedang dilaksanakan.  Tradisi menabur beras ini disebut pula sebagai ritual manawur behas atau tawur.  
  
Acara manawur (menabur) sebagai bagian dalam acara awal dari sesuatu ‘gawi’ (kerja/upacara/pesta) yang menyangkut kematian (gawi matei) maupun kehidupan (gawi belum). Tawur adalah sebuah aktivitas sakral yang dilakukan oleh pemimpin adat suku Dayak. Tawur merupakan sebuah tindak tutur ritual untuk menyampaikan semacam permohonan atau doa kepada Sang Pencipta dalam bahasa Dayak Kuno (bahasa Sangen) yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu untuk melakukan apa yang di luar nalar manusia. 

Secara tekstual, komposisi Tawur Hasapa memuat tiga hal penting :

  • prolog berupa puja-puji kepada Tuhan agar maksud dan permohonan dikabulkan. Hal ini dilihat dari pemakaian kata (kata-kata) dan frasa-frasa yang mempunyai kandungan semantic parallelism
  • bagian isi yaitu kata atau frasa dari kesatuan kalimat yang penghakiman, keputusan, dan vonis; dan 
  • bagian penutup yang merupakan kausalitas atas keputusan yang telah diambil dan implikasi yang ditimbulkannya berupa pengharapan-pengharapan, cita-cita, atau harapan-harapan lain masing-masing pihak di kemudian hari. Berkaitan dengan tindak tutur pemimpin adat di dalam ‘angkat sumpah’ seperti Tawur Hasapa demikian, para pihak yang ‘angkat sumpah’disaksikan oleh beberapa orang merupakan suatu aktivitas sosial yang berdampak pada hubungan antarkedua orang yang berperkara, antarkeduanya dengan masyarakat dan lingkungannya, dan antarkeduanya dengan Sang Pencipta.
Pemaknaan Tawur Hasapa dalam Konteks Kebudayaan Suku Dayak Ngaju
Kebudayaan Suku Dayak Ngaju dan religi Kaharingan merupakan dua kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Bahasa engasn sebagai produk kebudayaan Suku Dayak Ngaju menjadi bahasa kuno yang hanya terdokumentasikan pada kitab-kitab ajaran Kaharingan. Implikasinya bagi kajian bahasa yang berkaitan dengan kebudayaan menjadi sangat jarang dilakukan. Hal ini terkait erat dengan dua aspek yang sulit untuk dipertemukan; satu sisi kajian bahasa yang dilakukan berdasarkan fakta-logis-empiris sebagai satuan dari kata dan frasa-frasa atau kalimat yang mengandung medan makna secara semantik dan leksikal (lihat Pateda, 2001), di sisi lain bahasa atau berupa kata (kata-kata) atau frasa-frasa dan bersifat oral tersebut memuat kandungan perspektif teologis yang profan, sakral dan dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Di dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Suku Dayak Ngaju juga mengenal berbagai perangkat etika normatif yang tidak tertulis dan mengikat seluruh individu. Individu sebagai bagian dari sebuah masyarakat diatur di dalam tatanan kehidupan yang memberikan toleransi dan rasa keadilan bagi individu lainnya.

Otoritas sebuah bahasa terutama bahasa ritual menjadi sarat makna, tetap dan tidak berubah-ubah, menjadikan Bahasa engasn (Dayak Kuno) digunakan pada hampir semua aktivitas untuk berkomunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Melalui media Tawur Hasapa, esensi pencarian kebenaran yang hakiki oleh manusia merupakan jalan terakhir untuk mendapatkan pengadilan yang juga hakiki. Masyarakat Suku Dayak Ngaju memandang eksistensi Tawur Hasapa sebagai sarana penghukuman sosial, moral, dan budaya bagi individu yang tidak menemui solusi pada institusi hukum adat yang ada. Sanksi moral, sosial dan budaya tersebut telah menjadi momok yang membuat efek jera atau isolasi sosial bagi individu yang bersengketa. Di dalam fungsionalitasnya sebagai media komunikasi (terutama bersifat verbal), peran bahasa memiliki otoritas yang melebihi muatan semantisnya, misalnya dalam sebuah tindak tutur. Ia juga dimanifestasikan sebagai sarana untuk menghukum, menghakimi, bahkan mematikan karakter sosial individu yang sengaja untuk mempermainkan nilai-nilai hakiki tentang kebenaran.

Sumber Rujukan
Baier, Martin, August Hardeland and Hans Scharer. 1987. Worterbuch der Priestersprache der Ngaju-Dayak. Kamus Bahasa Sangiang—Dayak Ngaju—Indonesia—Jerman. Dordrecht-Holland/Providence-USA: Foris Publication Hardeland, August. 1859. Worterbuch Dajacksch—Deutsches. Kamus Bahasa Dayak—Jerman. Amsterdam: Druck Von C.A Spin and Sohn Lauder, Multamia RMT. 1999. “Derap Perkembangan Linguistik”, dalam Telaah Bahasa dan Sastra yang disunting oleh Hasan Alwi dan Dendy Sugono. Jakarta: Pusat Bahasa. Halaman 183—199. ______________. 2005. Berbagai Kajian Linguistik. Artikel yang diterbitkan sebagai bagian dari Bahasa Sahabat Manusia: Langkah Awal Memahami Linguistik. Depok: FPIB-UI Pateda, Mansur. 2001. Semantik Leksikal. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Disunting oleh Nila Riwut dan Agus Fahri Husein. Yogyakarta: Tiara Wacana Ugang, Hermogenes. 1983. Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran. Studi tentang Kehadiran Kristen di Dunia Kaharingan di Kalimantan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.++++


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU

TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU Dokumentasi : CU Betang Asi -  ritual-dayak-pakanan-apui Tawur Hasapa adalah tindak tutur sakral...