Rabu, 12 Februari 2014

Duhung Bertuah


Duhung Bertuah
 


Ambun dan Rimbun, adalah dua orang anak laki-laki bersaudara kakak beradik. Banyak orang mengira kedua anak tersebut saudara kembar namun sebenarnya bukan. Hai ini disebabkan wajah dan perawakan keduanya mirip sekali. Bahkan kadang-kadang orang sulit membedakan mana yang Ambun dan mana yang Rimbun.  Ambun anak yang tertua dan Rimbun adalah adiknya, umur mereka hanya selisih dua tahun.  Pada waktu kecil Ambun sering sakit-sakitan. Sebab itulah pertumbuhannya agak terganggu, sedangkan Rimbun memang sedari kecilnya selalu sehat.

         Bagi orang sekampungnya, kedua anak itu sangat disenangi.  Sikapnya sopan, hormat terhadap orang tua dan dalam keluarganya selalu rukun.  Ibunya yang sudah tujuh tahun lebih menjanda, dengan susah payah menghidupi keluarganya.  Hal itu dapat dimaklumi, waktu suaminya masih hidup pun kehidupan keluarga mereka tergolong susah.  Apalagi sekarang, ayah anak-anak itu sudah tiada.  Walaupun demikian, ibu ini tidak pernah mengeluh.  Untung saja,  sejak kedua anaknya menginjak remaja, keadaan mereka sudah agak baik sedikit karena keduanya sudah bisa membantu.

         Suatu sore, waktu mereka sedang duduk-duduk beristirahat di beranda rumah bersama ibunya, Ambun menyampaikan niat mereka berdua selama ini.  Mereka berkeinginan, untuk mengadu nasib di negeri orang. Sebab banyak sudah mereka lihat, jika orang di kampung itu kembali dari perantauan kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.  Selain itu, tidak enak rasanya hidup di kampung dengan kehidupan cuma itu-itu saja.  Keduanya ingin menambah pengalaman hidup.

         Ibunya yang sejak tadi hanya berdiam diri saja mendengarkan pembicaraan anaknya itu belum bicara apa-apa.  Dalam hatinya ia mempertimbangkan pendapat kedua anaknya.  Memang, apa yang dikatakan anaknya itu ada benarnya. Tetapi ia juga menilai, bahwa anak seusia Ambun dan Rimbun, terasa berat untuk diizinkan merantau karena mereka berdua masih terbilang muda.

         “Bagaimana bu ?” kembali Ambun bertanya.

         “Yah .., memang terasa sulit bagi ibu memberikan jawaban. Untuk itu ibu minta waktu untuk berpikir dahulu. Barangkali antara sehari dua ini ibu memberikan jawabannya”, jawab ibunya.

         “Tapi ibu tidak keberatan kan ?” kata Rimbun juga bertanya.

         “Yah .., mudah-mudahan”, sahut ibunya seraya bangkit masuk ke dalam rumah.

         Ambun dan Rimbun juga masuk mengikuti ibunya. Malam itu seolah-olah pembicaraan tadi sudah selesai begitu saja, tidak ada dari mereka yang berkeinginan mengungkit-ungkitnya lagi.

         Beberapa hari kemudian pada malam hari setelah selesai makan, ibunya meminta Ambun dan Rimbun duduk di dekatnya.

         “Ambun, Rimbun”, kata ibu itu memulai bicaranya.  “Selama ini, ibu telah mempertimbangkan permintaan kamu berdua.  Sebenarnya berat hati ibu melepaskan kalian berdua. Terutama Rimbun sendiri, ibu nilai masih terlalu muda.  Tetapi, setelah ibu berfikir pula bahwa anak laki-laki perlu memiliki pengalaman yang banyak. Sebab hidup di kampung sendiri, tidak ubahnya bunyi pepatah, seperti katak di bawah tempurung.  Oleh karena itu, keinginan kalian berdua ibu kabulkan”.  Mendengar ucapan ibunya, kedua anak itu bersorak gembira.

         Setelah ibunya menyuruh mereka berdua tenang dahulu, ia pun melanjutkannya : “Anakku, di negeri orang kamu tidak punya siapa-siapa.  Orang tuamu, sanak saudaramu, satu pun tiada.  Walau pun demikian, mereka itu sebenarnya semua ada, yakni mereka yang kau hormati, yang kau kasihi, yang kau cintai.  Oleh sebab itu,  hormati dan cintailah semua orang. Yang tua, hendaklah kau tuakan dan yang muda hendaklah kau jadikan sahabat.  Lusa kalian berdua boleh berangkat.  Sebaiknya kalian berdua jangan berpisah.  Tetapi kalau pun harus terjadi, jangan lupa saling mencari tahu kabar yang lain”, demikian ibunya mengakhiri nasehatnya.


Malam itu, kedua anak tersebut tidur nyenyak sekali. Barangkali mereka sudah terbuai dengan mimpi yang indah. Ibunya mengusap-usap rambut Ambun dan Rimbun berganti-ganti. Pilu hatinya, menatap wajah kedua anaknya itu. Di matanya ia membayangkan bagaimana kedua kakak beradik itu hidup di rantau orang. Kalau lapar, siapa yang memberinya makan. Kalau sakit, siapa yang menjaganya. Ia tidak mau mempersalahkan keputusannya. Ia yakin bahwa ia telah mengambil sikap yang bijaksana. Setelah puas memandang wajah kedua anaknya berganti-ganti, ia berdo’a semoga Ranying Hatalla Langit atau Tuhan melindungi kedua puteranya itu.  Ia sangat mendambakan kebahagiaan bagi kedua anaknya.
         Siangnya, Ambun dan Rimbun menyiapkan segala keperluannya termasuk pakaian mereka berdua. Kini tinggal menunggu saat keberangkatan saja. Demikian pula ibunya.  Pagi itu ia menangkap seekor ayam jantan dan disembelihnya. Darahnya dioleskannya pada dada, dagu, hidung  terus ke dahi kedua anaknya.  Diambilnya beras sedikit, dicelupkannya ke dalam air. Lalu ditaruhnya pada ubun-ubun kedua anaknya, seraya memohon keselamatan untuk kedua anaknya. Kepada kedua anaknya, ibu itu meminta agar mereka berangkat pagi-pagi sekali. Untuk bekal di jalan, ibunya membuat ketupat bagi mereka berdua dengan jumlah masing-masing tujuh biji, serta telur ayam rebus dalam jumlah yang sama.

         Tengah malam itu, ibunya membuka sebuah peti kecil yang terbuat dari besi. Dari dalamnya, dikeluarkan dua bilah duhung (senjata pusaka suku Dayak) dengan ukuran dan bentuk yang sama. Yang satu berlilitkan kain merah sedang yang satu lagi berlilit kain kuning.  Senjata tersebut adalah peninggalan almarhum suaminya. Sebelum ia meninggal dunia, ia berpesan pada isterinya agar disimpan baik-baik. Jangan sekali-kali diperlihatkan kepada orang lain. Dibuka atau tidak, nanti kalau kedua anak itu besar.  Yang berlilit kain merah diserahkan kepada Ambun dan yang kuning kepada Rimbun.  Setelah senjata itu dikeluarkan, ibunya mengambil kemenyan lalu membakarnya. Di atas asap kemenyan, senjata-senjata itu diasapinya seraya memohon tuah dari pusaka itu.

         Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Ambun dan Rimbun sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat. Namun sebelumnya mereka berdua bergegas turun ke sungai mencuci muka. Ibunya menyiapkan makanan yang sudah dimasaknya tengah malam tadi.

         Setelah segalanya siap, ibunya menyerahkan duhung tadi kepada masing-masing anaknya. Ia berpesan agar senjata itu jangan sembarangan digunakan terkecuali dalam keadaan terdesak. Disertai linangan air matanya, kening dan pipi kedua anaknya diciumnya bergantian. Disuruhnya Ambun yang tua turun lebih dahulu, lalu disusul adiknya. Lama perempuan itu berdiri di depan pintu rumah mengiringi kepergian kedua anaknya itu. Setelah kedua anaknya menghilang di tikungan jalan kampung itu, barulah ia masuk ke dalam rumah.

         Tersebutlah perjalanan Ambun dan Rumbun, naik gunung turun gunung, tanpa tujuan yang pasti. Tekad mereka berdua apa pun yang terjadi, tujuannya hanya mengikuti arah matahari terbenam. Ketupat dan telur yang dibekali ibunya mereka makan sedikit-sedikit.

         Suatu pagi, pada hari ketujuh dari pengembaraan itu, mendadak Rimbun jatuh sakit. Dari mulutnya keluar darah segar. Ambun bingung, tidak tahu apa yang diperbuatnya. Dicobanya memberikan adiknya minum air akar-akaran kayu yang dikenalnya. Tetapi satu pun tidak ada yang menolong. Tidak terasa air matanya bercucuran, sedih hatinya melihat sakit adiknya itu.

         Timbul perasaan bersalah di hatinya, mengapa ia dahulu menyetujui adiknya ikut serta. Ia tidak dapat membayangkan betapa kesedihan ibunya, bila Rimbun sampai meninggal.  Penyesalan yang tiada berkesudahan merupakan dosa baginya. Dalam keadaan gawat seperti itu, Ambun hanya mampu berserah kepada Yang Maha Kuasa.   

         Akhirnya lewat tengah hari, Rimbun meninggal dunia. Sambil menggali kubur adiknya, ia meratap seorang diri. Alam yang hening kaku, menyaksikan upacara pemakaman tanpa diiringi kata-kata belasungkawa. Diambilnya ketupat dan telur bekal adiknya, diremasnya dan ditaburkannya. Senjata duhung dicabutnya, sarungnya ditan-capkannya di ujung sebelah kaki dan mata duhung ditancapkannya di bagian kepala dari makam itu. Kain pembungkus yang berwarna kuning diikatkannya pada sebatang kayu kecil.
Dengan digeluti rasa sedih yang sangat dalam, Ambun meneruskan perjalanannya. Hari itu bekalnya sudah habis.  Ambun mulai cemas, apa yang akan dimakannya besok pagi.  Ia lalu memanjat sebatang pohon.  Ia berharap, dari atas pohon itu dapat melihat sesuatu.  Setibanya di atas pohon ia memandang ke sekeliling tempat itu. Di kejauhan terlihat olehnya asap api mengepul ke atas. Ambun merasa gembira. Di sebelah sana, pasti ada orang, fikirnya dalam hati. Dengan tidak banyak berfikir lagi, Ambun dengan cepat berjalan menuju arah asap tadi.
         Hampir malam baru ia tiba di situ. Dari jauh dilihatnya sebuah rumah. Rumah itu cuma satu dan di sekitarnya tidak ada kelihatan rumah lain. Dengan perasaan takut-takut, Ambun mendekati rumah tua itu. Dilihatnya seorang perermpuan tua sedang memasukkan ayam ke dalam kandang.  Menghindari agar orang tua itu tidak mendadak terkejut, Ambun berdehem.  Mendengar ada suara orang, perempuan itu menoleh ke arahnya.  Cukup lama orang tua itu tampak tertegun.

         “Salam nenek”, kata Ambun lembut.

         “Siapa kamu anak muda ?”  perempuan tua itu balas bertanya.

         “Saya bernama Ambun. Saya tiba di sini, nyasar tidak tahu jalan untuk pulang”, jelas Ambun.

         “Apakah kamu hanya sendirian ?”  tanya nenek itu lagi.

         “Tadinya dengan adikku. Di tengah jalan, ia meninggal dunia sebab kelaparan”, lanjutnya dengan wajah sedih.

         Mendengar ucapan anak itu, nenek tadi merasa kasihan. Ia pun mempersilahkan Ambun untuk mengikutinya naik ke rumah.  Ambun mengikuti dari belakang.

         Setelah makan malam, Ambun menceriterakan keadaan keluarga mereka. Orang tua itu mendengarnya dengan penuh perhatian.  Demikian pula, nenek itu menceriterakan keadaannya. Sebenarnya nenek itu berasal dari keluarga raja yang sekarang memerintah di daerah itu. 

         Akibat perkawinannya dengan almarhum suaminya dahulu, ia diusir.  Sayangnya dari perkawinan itu mereka tidak memperoleh seorang pun putera.  Sampai akhirnya suaminya meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu. 

         Sekali-sekali kalau ada keperluannya, nenek itu pulang ke kota.  Tetapi ia sangat menghindari bila bertemu dengan pihak keluarganya.  Dan sampai sekarang ia sama sekali dilupakan orang. Demikianlah atas tawaran perempuan itu, Ambun tinggal bersamanya.  Betapa senang hati orang tua itu atas kehadiran Ambun.  Mencari kayu api, menimba air, memelihara ayam, bahkan pekerjaan ladang tidak lagi dilakukan oleh orang tua itu sepenuhnya.

         Begitu pula Ambun dengan senang hati melakukan pekerjaannya. Malah kadang-kadang nenek tua itu agak kesal melihat Ambun bila bekerja tidak mau berhenti kalau tidak disuruh berhenti. Tetapi Ambun seperti tidak mau mendengar.  Apalagi kalau pekerjaannya itu mengasyikkannya.  Oleh nenek tua itu, Ambun sudah dianggap seperti cucu kandungnya sendiri.  Kadang-kadang ia khawatir kalau cucunya itu sakit bila terlalu banyak bekerja.

         Suatu hari Ambun dan neneknya sangat ketakutan.  Lima orang pengawal kerajaan menemui mereka.  Dikatakannya bahwa Ambun, cucu nenek tua itu besok harus ikut pertandingan.  Karena pertandingan tersebut harus diikuti oleh para ksatria dan pemuda lainnya dari kerajaan itu yang kesemuanya gagal. Sekarang tinggal Ambun satu-satunya yang harus mengikuti pertandingan itu.

         Barang siapa dapat melompat dari halaman istana mengambil bunga melati di atas atap istana itu dan langsung menyerahkannya kepada tuan puteri maka ia dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menikahi tuan puteri serta sekaligus sebagai menantu raja. Bagi peserta terakhir yakni Ambun apabila gagal, akan dihukum gantung. 

         Mendengar keterangan itu nenek tua itu dan Ambun menangis tersedu-sedu.  Apakah daya Ambun memenangkan pertandingan itu ? Sampai larut malam, mereka berdua tidak dapat tidur.  Ambun mengeluarkan senjata duhungnya, lalu diserahkannya kepada nenek tua itu. Nenek tua itu lalu membakar kemenyan sambil menaburkan beras kuning.  Ia meminta kepada Yang Maha Kuasa sekiranya ia keturunan para raja juga, mohon agar kekuatan yang ia miliki diberikan kepada cucunya Ambun.  Semoga besok dalam pertandingan itu, cucunya memperoleh berkah dan dapat memenangkan pertandingan tersebut.

         Pagi-pagi sekali Ambun sudah menyiapkan diri. Neneknya dipaksanya untuk ikut melihat. Apabila ia gagal, biarlah neneknya menyaksikannya menjalani hukuman itu. Dengan terpaksa, nenek tua itu memenuhi keinginan cucu angkatnya.  Sebentar kemudian pengawal pun datang. Tanpa banyak bicara, Ambun langsung dibawa.  Nenek tua itu mengikutinya dari belakang, diiringi tangisnya. Sambil berjalan Ambun mengingatkan neneknya agar mendo’akan kemenangan baginya.

         Setibanya di halaman istana, penonton sudah penuh sesak. Semua mata tertuju kepada Ambun.  Para peserta, anak raja dari kerajaan Asang Samaratih tujuh bersaudara, tertawa mengejek. Jangankan Ambun yang berpakaian compang camping begitu, mereka yang turunan raja dan para ksatria saja tidak dapat memenangkannya.

         Pertandingan pun segera dimulai. Sebelumnya, hulubalang raja mengulangi peraturan pertandingan dan sanksi hukum gantung bagi Ambun apabila ia gagal.  Semua penonton menahan nafas, merasa kasihan kepada pemuda itu andaikata ia gagal.

         Setelah ia diperintahkan untuk maju ke depan, terdengar tepuk tangan bercampur ejekan gemuruh dari penonton. Bersamaan dengan pengambilan ancang-ancang dengan suara nyaring ia memanggil ayahnya. Bersamaan dengan itu, Ambun mencabut senjata duhung pusaka yang terselip di pinggangnya. Seketika itu juga ia melejit ke atas seperti anak panah lepas dari busurnya. Orang-orang yang menyaksikan seakan-akan tidak percaya tahu-tahu Ambun sudah berdiri di samping Tuan Puteri. Saat itu juga, ia pun menyerahkan bunga itu.  Tempik sorak penonton gegap gempita seperti membelah bumi layaknya.

         Melihat kejadian itu raja langsung berdiri, seraya mengumumkan bahwa apa yang menjadi keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Dan secara syah, Ambun diakui menjadi suami anaknya Tuan Puteri.

         Rupanya para undangan, anak raja dari kerajaan Asang Samaratih tujuh bersaudara merasa tidak puas. Mereka telah dipermalukan oleh anak ingusan itu. Apalagi orang itu tidak diketahui asal usulnya. Oleh sebab itu mereka mengumumkan perang, yang kalah dijadikan hamba sahaya dan seluruh barang miliknya disita. Raja sendiri tidak dapat mengelak dan terjadilah perang yang dahsyat. Tetapi berkat kesaktian senjata yang dimiliki Ambun, semua musuh dapat dikalahkan.

         Dengan segala kerendahan hati Ambun tidak mau melaksanakan perjanjian tadi. Semua musuhnya disuruhnya kembali dalam keadaan baik-baik. Mereka semua merasa malu sendiri atas perlakuan Ambun terhadapnya. Selanjutnya, diadakanlah pesta perkawinan Ambun dengan Tuan Puteri selama tujuh hari tujuh malam dan mulai saat itulah Ambun menjadi keluarga istana. Sedangkan neneknya juga dibawanya ke sana. Mulai saat itu pula neneknya rukun kembali dengan fihak keluarga raja.

         Setelah raja yakni mertua Ambun tidak mampu lagi menjalankan pemerintahan, kerajaan itu diserahkan kepada Ambun menantunya.  Sejak saat itu Ambun berusaha mencari letak kampung mereka dahulu tempat tinggal ibunya. Untuk mencari ibunya tidaklah terlalu sulit sebab kampung itu ternyata masuk wilayah kekuasaannya.

         Betapa bahagia perasaan ibunya walau pun satu di antara anaknya yaitu Rimbun sudah tiada. Melihat kesedihan ibunya atas kematian adiknya, Ambun membawa beberapa orang pengawalnya mencari Danum Kaharingan Belum (air hayat) di Bukit Kaminting. Dengan bersusah payah akhirnya Danum Kaharingan Belum itu diperolehnya pula. Kemudian mereka berusaha untuk menemukan makam Rimbun adiknya.

         Dengan tanda-tanda yang diberikan dulu akhirnya makam itu ditemukan juga. Seluruh tulang belulang adiknya dikumpulkan. Setelah Danum Kaharingan Belum itu diteteskan, mulailah tulang-tulang itu menyusun diri. Tidak lama kemudian, berdirilah adiknya Rimbun.

         Sambil berpelukan, mereka berdua saling menangis melepaskan rindunya. Tetapi yang paling berbahagia adalah ibunya. Ia bersyukur kepada Tuhan karena do’anya dikabulkan oleh Yang Maha Besar Tuhan. Hiduplah mereka dengan damai sentosa.  
            Ketabahan, ketekunan dan kejujuran merupakan modal dalam menempuh kehidupan.  Namun jika memperoleh keberuntungan janganlah lalu menjadi sombong. Berbuatlah kebaikan pada siapa saja, tidak terkecuali musuh sekalipun.

Selasa, 11 Februari 2014

Balian Wanita Dari Dendem Entem


Balian  Wanita  Dari   Dendem  Entem


SUASANA dalam sebuah rumah betang di puncak puruk (bukit berbatu) Dendem Entem sudah sunyi senyap. Tidak terdengar lagi suara tawa canda, obrolan bahkan bisik-bisik sekalipun; hanya suara dengkur bersahut-sahutan. Lampu-lampu nyating (terbuat dari damar, getah kayu hutan yang mengental) sudah berpadaman, dalam betang (rumah panjang tradisional suku Dayak, dihuni berpuluh-puluh keluarga) keadaannya gelap gulita. Tetapi dari satu-satunya karung (kamar) yang lawang (pintu) nya menghadap ke tengah betang, terdengar suara-suara lirih berbisik.

 Rentik, ini aku”, terdengar bisikan seorang lelaki.

 “Siapa itu ?  Pergilah tidur, jangan menggangguku !”, suara seorang perempuan menimpal.

 “Ini aku, bang Siang”, bisik suara lelaki tadi kembali.

 “Apa gerangan niatmu di tengah malam seperti ini ?”, tanya perempuan tadi.

 “Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, karena aku ..........”, suara si lelaki lalu terpotong.

 “Jika yang kau sampaikan masih seperti dulu, aku masih menyediakan jawaban yang sama yakni tidak.  Jika tidak puas, nyalakan lampu !  Biar kita berbicara di tempat terang, di tengah betang”,  ucap si perempuan dengan tegas. Nampaknya lelaki yang bernama bang Siang itu memang seorang yang tidak tahu diri, tangannya mulai nakal merayapi tubuh si perempuan.

 “Kembalilah ke tempatmu saudaraku. Sebagai sanak sendiri jangan merusak nama baik betang ini”,  terdengar suara si perempuan dengan perlahan tetapi tegas. 

Pernyataan keras namun diucapkan dengan lembut itu ditafsirkan lain oleh bang Siang.  Dianggapnya semua ucapan Rentik itu tidak sungguh-sungguh.  Tanpa pikir panjang lagi bang Siang meraih tubuh Rentik ingin memeluknya.

 “Hei enyahlah kau, lelaki tidak tahu diri !  Keluar !”,  mendadak terdengar suara yang lebih nyaring dengan nada tinggi dari mulut Rentik. Akibatnya semua yang terlelap jadi terbangun saking terkejutnya. Suasana menjadi ribut,  nyating lalu dinyalakan.  Semua orang lalu  memasuki kamar satu-satunya yang ada di betang itu.  Terlihat bang Siang tertunduk lemas karena takutnya.

 “Alangkah beraninya kau masuk ke karung mina (bibi) ku ?”, hardik seorang pemuda pada bang Siang.  

 “Sesungguhnya aku mau mengatakan tentang ................”, ucap bang Siang memelas, mencoba untuk berdalih.

 “Diam kau !  Jelas sudah bersalah masih are pander (banyak bicara) !”, hardik pemuda tadi.

 “Beri aku kesempatan, dengarkan penjelasanku ………”, ucap bang Siang.

 “Tidak perlu !”, potong pemuda itu tadi.  Bang Siang tunduk terdiam.

 “Untuk menjelaskan persoalan, tidak bolehkah ia berbicara sedikit ?”, ucap seorang pemuda lain bertanya, nampaknya ia teman bang Siang.

 “Siapa itu yang ikut-ikutan ?”, seorang pemuda lain berseru.

 “Pukul saja bila mereka banyak ulah !”, seru seseorang menimpali.

 “Jangan main hakim sendiri kawan !”, kata teman bang Siang tadi.

Situasi semakin panas dan nampaknya sudah tidak terkendali lagi. Walau pun beberapa yang tua telah mencoba untuk menengahi, namun kaum mudanya tidak dapat dibendung. Pukulan, tamparan dan tendangan menerpa tubuh bang Siang. Kawan-kawan bang Siang tidak dapat berpangku tangan, melihat dan membiarkan semua itu terjadi. Akhirnya terjadilah perkelahian antara bang Siang dan tujuh orang temannya melawan para pemuda sebetang itu.

Dari perkelahian semula tangan kosong beralih menggunakan senjata berupa mandau dan tombak serta dari perkelahian dalam karung yang sempit beralih ke ruang tengah betang yang luas. Lampu nyating jatuh rebah ke lantai, amuk mereka itu dalam keadaan gelap gulita. Suara jerit kesakitan, erangan dan mengaduh terdengar di sana sini dalam kegelapan. Kesudahannya perlawanan bang Siang dan kawan-kawannya melemah. Satu persatu mereka berjatuhan, meninggal. 

Bilamana nyating telah dinyalakan terlihat tumpukan manusia yang terluka parah serta mayat di mana-mana. Ratap tangis keluarga yang ditinggalkan terdengar pilu malam itu. Diantara mayat-mayat itu ternyata seorang dari teman bang Siang tidak ada. Berarti ia dapat meloloskan dirinya, beberapa orang segera turun mencari di seputar puruk namun tidak dapat menemukannya.

Sebenarnya betang di puruk Dendem Entem yang menghadap ke tepi sungai Teweh itu bukanlah betang kediaman penduduk biasa, melainkan sebuah tempat yang fungsinya bagaikan asrama sekaligus sebuah sekolah. Di tempat itu dipelajari cara-cara melaksanakan balian (upacara pendekatan kepada Yang Maha Kuasa) untuk pengobatan meliputi manteranya, musik tradisionalnya, cara menarinya; memohon restu, membayar hajat dan sebagainya.

Rentik, walaupun masih muda sudah sangat mahir dalam melakukan upacara balian. Jadi boleh dianggap seperti pada masa kini ia adalah seorang guru, merangkap kepala sekolah sekaligus kepala asrama dari sebuah sekolah “balian”. 



Banyak sudah lamaran para pemuda bahkan diantaranya muridnya sendiri untuk mengambilnya sebagai isteri ditolaknya. Berasal dari sebuah keluarga yang cukup terpandang membuat Rentik dituakan orang-orang di perguruan tersebut. Sayangnya ia belum terpikir untuk bersuami, sehingga terjadilah peristiwa berdarah malam itu akibat perilaku bang Siang yang memaksanya.

Sebenarnya bang Siang sendiri bukanlah orang sembarangan.  Ia adalah adik bang Pak, kepala kampung Danuparui di sungai Ratah anak sungai Mahakam. Suku ini bertutang (tatto) warna merah dan terkenal masa itu sangat ganasnya, seseorang dari suku lain hanya dipandangnya dari banyaknya tengkorak kepala yang dikoleksinya dari hasil mengayau (memotong kepala musuhnya).  Bang Siang dan tujuh orang temannya secara kebetulan singgah di puruk Dendem Entem dari perjalanannya menjual balanga (tempayan).

Dari niatnya semula yang ingin berguru tentang balian, ketika terpandang wajah Rentik malah jatuh cinta dan ingin menyuntingnya seperti pemuda-pemuda sebelumnya. Kenekadannya menyebabkan hilangnya nyawanya sendiri dan enam orang temannya yang lain.

Seorang teman bang Siang yang berhasil meloloskan diri akhirnya sampai ke kampungnya. Semua keluarga di lamin (rumah panjang suku Dayak di daerah Kalimantan Timur) di kampung Danuparui itu menjadi sedih, setelah mendengar cerita tentang masalah yang dihadapinya sampai lolosnya dirinya. Bang Pak dan saudara-saudaranya bang Juk dan bang Irang serta tetuha lainnya lalu bermusyawarah.

Dengan amarah yang meluap bang Pak menarik kesimpulan dari musyawarah itu, katanya : “Matinya adikku dan teman-temannya harus dibalas. Kita semua adalah keluarga yang berpantang untuk membawa hutang piutang ke liang kubur. Bagi yang merasa punya piutang dengan orang-orang di tepian sungai Teweh itu bergabunglah denganku !  Keluarga yang lainnya jagalah kampung kita”.

 “Sebaiknya lelaki yang sudah uzur (lemah dan lanjut usia), kaum wanita dan anak-anak saja yang tinggal”,  seorang tetuha menambahkan.

Bulat mufakat dan tekad mereka, piutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Maka segenap lelaki dewasa kampung Danuparui dan malah dibantu semua lelaki dari lamin-lamin sepanjang gunung Meling sampai gunung Durung Ayuh. Di bawah pimpinan bang Pak mereka yang banyaknya sekitar 500 orang itu mulailah bergerak pergi menuju sungai Teweh.

Di puruk Dendem Entem sendiri, Rentik sudah memperhitungkan datangnya pembalasan. Pepohonan di lereng puruk ditebang dan dipotong sepanjang dua meteran dan dijadikan pagar kayu bulat dengan singkang (diameter) sejengkal serta dipasang tegak yang disebut kuta.  Sekeliling punggung puruk dibuat parit yang lebar mengelilingi betang.

Sedikit perasaan cemas terbersit di hati Rentik, sebab mereka kekurangan tenaga untuk bertempur.  Desa-desa dan keluarga-keluarga di sekitar Dendem Entem tidak dapat memberikan bantuan.  Para pemudanya saat itu kebanyakan sedang pergi ke perairan muara sungai Barito untuk menghadapi kawanan bajak laut manca negara yang sedang merajalela.

Akhirnya gerombolan bang Pak tibalah di kaki puruk, seorang utusan dikirim meminta penyerahan tanpa syarat. Melihat banyaknya musuh semula Rentik ingin berdamai saja, namun utusan itu sombong sekali sikapnya dan menyampaikan pesan pimpinannya bahwa mereka tidak ingin berdamai.

 “Kita terpaksa harus menghadapi mereka.  Tempat ini tidak mungkin dapat dihancurkan mereka. Kita akan mendapat bantuan dari nayu (roh para leluhur) bila mereka sampai menjejakkan kaki di halaman betang kita ini.  Percayalah padaku !” kata Rentik membesarkan hati anak buahnya.

Setelah utusan berlalu mereka pun bersiap. Pintu kuta ditutup, disela-sela pagar kuta berdiri para penyumpit dengan damek (anak sumpitan) beracun. Terlihat mereka itu bergerak maju ke atas puruk, tetapi tidak segera menyerang.  Ternyata mereka mempersiapkan haramaung nyaran,  sebuah perisai besar dari baner (akar papan pohon besar yang tebal) yang diberi beroda,  para penyerang berada di bawahnya.  Haramaung nyaran itu diperlengkapi dengan alat pelontar bagaikan katapel.

Batu-batu sebesar buah kelapa beterbangan dan merubuhkan pagar kuta.  Rentik dan anak buahnya mundur ke tepi parit yang di dalamnya dipasangi suah (bambu runcing), sambil dengan gencar tetap menghembuskan dameknya.

Para penyerang menghadapi hujan damek itu dengan perisai sambil melindungi teman-temannya yang mengangkat kayu-kayu pagar kuta yang rebah tadi untuk menutup parit membuat jalan menyeberang. Orang-orang bertatto merah gerombolan bang Pak ini memang ahli berperang ketimbang Rentik dan anak buahnya yang hanya pandai menari dan melaksanakan upacara tradisional.

Akhirnya anak buah Rentik mundur dan bertahan di bawah pelataran betang dan terus menghembuskan dameknya.  Selain itu mereka membuat api unggun dengan maksud asapnya dijadikan sebagai tirai berlindung. Asap membumbung tinggi menutup pemandangan, betang jadi terlindung dibaliknya. Rentik naik, membakar kemenyan serta memerintahkan kaum wanita untuk memukul garantung (gong). 

Ketika para penyerang anak buah bang Pak telah dapat menyeberangi parit dan anak buah Rentik juga maju menyambangi dengan bersenjatakan tombak dari sumpitannya, tiba-tiba terdengar suara riuh dari atas betang.

 “Lulu lulu lulu hui !”  Itulah suara lahap (sorak kegembiraan) anak buah Rentik.

 “Kita pasti menang !  Kita pasti menang !  Dia datang !  Dia datang !” Teriak gembira berkumandang dari atas betang ke mana-mana. Bersamaan dengan itu pula berhembus angin yang hawanya dingin dari puncak puruk dan perlahan membuyarkan tirai asap yang dibuat anak buah Rentik. Dari seberang parit bang Pak melihat bangunan betang di puruk Dendem Entem itu dengan mulut ternganga.

Di atas atap betang terlihat puluhan orang lelaki mengenakan sangkarut (pakaian kebesaran suku Dayak bentuknya seperti rompi terbuat dari kulit kayu) berwarna merah sedang menari perang. Di tangan mereka tergenggam mandau (senjata tradisional suku Dayak berbentuk parang) yang terlihat semakin membara.  Sedangkan di pelataran betang nampak Rentik masih menaburkan beras berkunyit dengan mulutnya yang komat-kamit.  Kaum wanita anak buahnya dengan gencar memalu garantung dengan irama berbau kematian.

Bang Pak yang banyak pengalamannya melihat semua itu menjadi ciut nyalinya. Ini sudah sangat berbahaya, sebab Rentik ternyata benar-benar seorang balian wanita muda yang piawai. Ia dapat dengan mudah memanggil nayu untuk membantunya.  Bang Pak berseru memerintahkan anak buahnya untuk segera mundur,  jelas untuk melawannya tidaklah mampu.

Para penyerang itu berlarian mundur menyeberangi parit, namun warga puruk Dendem Entem tidak mengejarnya dan membiarkan saja musuhnya itu pergi.  Kemudian semuanya menghilang dalam kelebatan rimba di kaki puruk di bawah sana.

Warga puruk Dendem Entem berkumpul, mereka mengerumuni ketuanya Dayang Rentik, balian wanita yang handal itu. Sebagian mereka masih heran, kemana perginya nayu yang tadi terlihat di atas betang mereka itu.  Sejak itulah di kalangan suku Dayak dikenal adanya upacara memanggil arwah nenek moyang untuk meminta bantuan dalam menghadapi serangan musuh.~~~~


ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

  ANJING DALAM BUDAYA DAYAK                                                                           image : footage.framepool.com Anjing a...