Senin, 10 Maret 2014

Habukung Dalam Upacara Kematian

Bukung
Dalam suatu upacara kematian di beberapa daerah yang ada di kalimantan Tengah, ada dikenal suatu acara yang disebut dengan Habukung. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama Hindu Kaharingan mengenai latar belakang diadakannya Upacara Ritual Habukung yaitu berawal dari suatu legenda pada zaman dahulu kala pada sebuah dusun atau pemukiman yang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah, terjadilah suatu peristiwa yang menimpa seorang pemuda dusun tersebut yang baru saja membina rumah tangga kurang lebih berjalan 1 (satu) tahun. Pada hari itu terjadilah suatu musibah yang tidak disangka-sangka, istrinya yang sedang menggandung sekitar 7 bulan , tiba-tiba meninggal dunia. Karena istrinya meninggal dunia tersebut, sang suami sangat bersedih sekali dan selalu menangis sambil memeluk mayat istrinya. Dan selama itu juga sang suami tidak mau makan dan berbicara dengan siapa pun. Orang tua dan pihak keluarga pemuda tersebut selalu berupaya untuk menesehati pemuda tersebut agar mayat istrinya segera dimakamkan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda tersebut dan ia pun tetap berbaring sambil memeluk mayat istrinya.

Pihak keluarga mulai gelisah guna mencari jalan keluar untuk membujuk sang pemuda tersebut agar mau memakamkan istrinya, dan kurang lebih berjalan 15 (lima belas) hari, pada suatu malam ayah sang pemuda bermimpi bertemu seseorang dan orang tersebut berkata kami akan menolong bapak untuk menghibur anak bapak yang ditinggalkan istrinya dengan cara berangsur – angsur dan beritahu kepada penduduk lainnya jangat takut atas kedatangan kami yang aneh-aneh. Setelah terbangun pada pagi harinya, maka sang ayah segera bangun untuk memberitahukan mimpi tersebut kepada warga setempat.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.00, terdengarlah suara gemuruh dan derap-derap kaki dan diselingi suara musik gong dan lainya, kemudian muncullah orang banyak sekali memakai suatu topeng yang terbuat dari kayu Palawi. Topeng inilah yang disebut dengan Bukung. Sambil membunyikan alat-alat musik dan disertai dengan berbagai macam tarian sambil membunyikan bamboo yang dibuat sedemikian rupa yang disebut dengan “Selekap”. Tarian tersebut dibuat dengan gaya yang lucu-lucu sehingga membuat orang yang melihat terhibur dan tertawa-tawa.

Begitulah bukung tersebut datang setiap malam, sehingga sang pemuda yang istrinya meninggal tersebut berangsur-angsur membaik sudah mau makan dan berbicara dengan orang lain.

Bukung – bukung itu datang setiap malam sambil membawa uang, barang- barang lainya yang akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah menginggal dunia tersebut. Hal ini berlangsung selama beberapa malam, sehingga bermacam-macam bentuk dan pakaian yang dipakai serta sda yang membungkus dirinya dengan rumput, daun pisang dan lain-lain. Selama beberapa malan tersebut setelah adanya bukung tersebut, maka banyak sekali barang-barang sumbangan yang diberikan menumpuk seperti beras, gula, kopi, ayam, babi dan lainnya.

Selanjutnya pada suatu malam pihak keluarga sang pemuda memyampaikan kepada pemuda yang istrinya meninggal dunia rencana untuk memakamkan istrinya. Hasilnya sang suami setuju untuk memakamkan istrinya sampai pada ketentuan bahwa keluarga harus menyiapkan biaya untuk pelaksanaan penguburan dengan bantuan bukung tadi (biaya yang sudah ada). Menyelang hari pelaksanaan pemakaman bukung berjalan terus tiap malam tanpa henti. Tepat pada hari pemakaman, bukung terus diadakan sampai peti jenasah (raung) dibawa ke liang lahat (dikuburkan). Dan bukung yang terakhir ikut mengangkat dan membawa peti jenasah ke kuburan, bukung yang ikut mengangkat peti jenasah tersebut yaitu bukung kinyak atau bukung belang.****

Rabu, 05 Maret 2014

Sumpah Setia (Dayak Ngaju)

Berani bersumpah untuk menyatakan kesetiaan berarti berani menanggung resiko apabila mengingkari sumpah yang telah diucapkan. Apabila ia tidak setia kepada sumpahnya, maka ia berani tanggung resiko bagai rotan yang terpotong, yang berarti nyawanya pun akan terpotong, siap sewaktu-waktu nyawa terputus dari badan. Demikian makna dan resiko sumpah setia bagi suku Dayak.

Sumpah setia yang dilakukan oleh suku Dayak kepada pemimpin mereka, biasanya diadakan dengan saling menukar darah yang biasa disebut hakinan daha hasapan belum, yang kemudian pada pergelangan tangan diikatkan lamiang atau lilis. Setelah itu memotong rotan, menaburkan beras kuning, menabur abu, garam, Kemudian ibu jari tangan kanan dilukai sedikit hingga mengeluarkan darah. Upacara ini dilaksanakan sebelum pukul 12.00 siang hari. Disini makna darah manusia yang menetes keluar dari ibu jari kanan merupakan lambang bakti yang setinggi-tingginya.

Persyaratan yang diperlukan :
  • Rotan
  • Beras
  • Abu Dapur
  • Garam
  • Parang atau sejenis pisau berukuran besar sebagai alat pemotong
  • Kayu persegi atau bulat untuk alas pemotong rotan
  • Kunir
  • Minyak kelapa
Cara pelaksanaannya :

Sebelum seseorang menyatakan sumpahnya, terlebih dahulu ia berdiri ke arah matahari terbit, yaitu Timur. Petugas pelaksana akan menaburkan beras ke segala arah, dengan maksud agar Penguasa Alam, Hatalla Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan yang tinggal di langit ketujuh, berkenan mendengarkan janji atau sumpah yang akan diucapkan. Setelah itu, yang bersumpah berbalik arah menghadap matahari terbenam dan pelaksana upacara menaburkan abu, garam, dan beras di belakang orang yang bersumpah. Apabila dia yang bersumpah tidak berkata benar, maka sebagai abu yang terbang berhamburan di bawa angin, begitu pula kehidupannya nantinya akan sia-sia dan terkutuk, hancur seperti garam yang terbang dan menguap.

Setelah itu, dia yang disumpah berbalik arah lagi menghadap matahari terbit, kemudian petugas penyumpahan dan dia yang disumpah mengambil posisi duduk, tangan keduanya memegang rotan sebelah menyebelah. Sebelum rotan di potong, dia yang disumpah harus berani mengatakan:

Apabila ia tidak setia kepada sumpahnya, maka ia berani tanggung resiko bagai rotan yang terpotong, yang berarti nyawanya pun akan terpotong, siap sewaktu-waktu nyawa terputus dari badan. Pada saat upacara berlangsung, para pemimpin lain dan masyarakat yang menghadiri upacara sebagai saksi juga berdiri berhadapan dengan orang-orang yang bersumpah, untuk berpartisipasi sebagai saksi.

Dengan perantaraan roh beras yang ditabur-taburkan dan yang berada di langit ke tujuh, memohon untuk menyampaikan pesan manusia kepada Ranying Hatalla untuk meyaksikan sumpah yang sedang berlangsung.

Apabila dia yang bersumpah tidak setia, tidak jujur dan hanya berpura-pura, maka, bagaikan abu, hidupnya terbang ditiup angin, akan hancur seperti garam, dan nafasnya akan terputus bagai rotan yang terpotong. Akan tetapi apabila orang yang bersumpah setia, rajin dan jujur untuk selamanya, maka ia akan mendapat untung panjang, hidup senang, umur panjang, dapat berkat dan banyak rezeki.

Sumber : www.nila-riwut.com

Selasa, 25 Februari 2014

Dahiang atau Petanda (2)

Suku Dayak khususnya di daerah Kalimantan Tengah meyakini bahwa raja penjaga dahiang yang bertempat tinggal pada langit keenam, bertugas memberi perintah kepada jenis-jenis binatang tertentu yang berada di dunia agar memberikan pertanda kepada manusia di dunia.

Jenis-jenis hewan yang ditugaskan memberi petanda, antara lain :




Handipe atau ular
Jenis-jenis ular yang dianggap mampu memberikan pertanda kepada manusia ialah :
Panganen atau ular sawah Apabila ditemukan ular sawah yang bertelur dalam sebuah rumah atau di lumbung padi ataupun dalam kandang ayam, pertanda bahwa pemiliknya akan memperoleh kesenangan.
Hanjaliwan atau sejenis ular kobra Apabila ular hanjaliwan masuk ke sebuah rumah bahkan memasuki kamar tidur, menandakan bahwa ada seorang yang akan bermaksud jahat bahkan hingga mengakibatkan kekacauan.
Ular Tanunung Bertemu ular yang sedang berenang dari arah kanan ke arah kiri pertanda tidak baik, namun sebaliknya apabila yang berenang tersebut adalah ular tanunung dan arah berenang dari kiri ke kanan pertanda baik. Dalam suatu perjalanan di hutan kemudian bertemu ular tanunung sedang berkelahi dengan ular depung pertanda keuntungan besar kan segera di peroleh.
Ular Depung Ketika sedang berjalan kaki dalam hutan, bertemu ular tanunung yang sedang berkelahi dengan ular depung, pertanda baik, keuntungan besar segera akan diperoleh.

Bajang/Bengau atau Rusa





Beberapa pertanda yang diberikan oleh bajang, bengau atau rusa ialah :
Bertemu rusa berenang menyeberang dari kanan ke kiri, ketika sedang mengendarai perahu, pertanda perjalanan akan tidak mulus karena akan mendapat gangguan orang atau akan menderita sakit dalam perjalanan.
Bila bertemu rusa sedang menyebrang di depan perahu dari kiri ke kanan, pertanda yang diberikan sangat menyenangkan karena niat perjalanan berhasil baik dan mendapat keuntungan.
Di malam hari terdengar suara rusa menukiu atau bersuara nyaring namun sangat singkat dan suara itu terdengar dari arah sebelah kiri rumah juga ditemukan ada pohon yang dahannya patah, pertanda tetangga kampung atau bahkan salah seorang penghuni rumah akan mengalami sakit keras bahkan mungkin sampai meninggal dunia.
Apabila terdengar suara rusa dari belakang rumah dan disahut oleh rusa lainnya dari arah depan rumah, pertanda tamu dari jauh yang tidak diduga akan datang. Menemukan tanduk rusa yang telah terlepas di ladang/sawah, pertanda baik, berarti sawah akan mendapatlkan panen yang berlimpah.

Kakupu atau Kupu-kupu
Peran kakupu atau kupu-kupu dalam memberikan pertanda :
Kupu-kupu yang terbang masuk rumah, kemudian terbang lagi masuk dalam kamar tidur bahkan hinggap di tempat tidur, pertanda ada tamu yang datangnya dari jauh dan akan menginap di rumah tersebut.
Bila kupu-kupu menempel di pintu depan rumah, pertanda akan kedatangan tamu dari sekitar kampung dan tamunya tidak menginap.
Kupu-kupu yang terbang masuk rumah, bahkan hinggap di kepala dan tangan, pertanda keluarga dekat dengan keperluan penting akan datang mengunjungi.

Asu atau Anjing
Saat berburu dan mengajak anjing, kemudian anjing yang sedang berlari tiba-tiba berhenti sambil menurunkan ekornya ke bawah dan mengeluarkan suara ngirrrr…ngirrr, pertanda mahluk halus atau orang gaib berada disekitar anjing tersebut.

Pusa atau Kucing

Kucing menyaup yang artinya menggosok-gosokkan tangan di mukanya pertanda akan ada tamu berkunjung. 


dahiang atau petanda

Dahiang atau Petanda

Dahiang atau Petanda

Suku Dayak khususnya di daerah Kalimantan Tengah meyakini bahwa raja penjaga dahiang yang bertempat tinggal pada langit keenam, bertugas memberi perintah kepada jenis-jenis binatang tertentu yang berada di dunia agar memberikan pertanda kepada manusia di dunia.

Jenis-jenis hewan yang ditugaskan memberi petanda, antara lain :

Burung
Antang Bahandang atau burung elang merah Cara terbang dan suara Antang atau Burung Elang memiliki arti khusus bagi orang Dayak. Lebih-lebih pada burung elang yang berwarna merah. Contoh gerakan tersebut antara lain: Apabila orang Dayak sedang mudik menumpang perahu, dalam perjalanan tiba-tiba berjumpa burung elang yang terbang dari arah kanan menuju ke arah kiri di depan perahu mereka, bisa jadi mereka balik kanan untuk membatalkan perjalanan tersebut karena burung elang telah memberikan peringatan kepada mereka bahwa di depan mereka ada bahaya menghadang. Apabila arah terbang Burung Elang dari kiri menuju ke arah kanan akan tetapi tanpa mengepakkan sayapnya, dan gaya terbang elang tersebut biasanya disebut sebagai elang menari, lalu terbang terus menuju ke udik baru kemudian terbang menuju arah perahu yang sedang mereka tumpangi. Inilah pertanda baik. Artinya niat yang ingin dicapai akan mendapatkan hasil maksimal. Apabila arah terbang Elang dari depan perahu menuju ke belakang dan tiba-tiba menangis, maksudnya elang tersebut mengeluarkan suaranya, serta menjatuhkan diri arah ke bawah, pertanda yang diberikan menyatakan bahwa di belakang mereka telah terjadi kecelakaan dan mungkin saja kecelakaan tersebut akan menimpa mereka pula. Bila di sebelah kiri perahu ada seekor elang sedang terbang, tiba-tiba dari arah kanan muncul lagi seekor elang yang langsung menyambar elang yang sedang terbang di sebelah kiri perahu hingga terjatuh, pertanda ini menyatakan bahwa akan terjadi kesalah pahaman dan perselisihan sepulang mereka dari perjalanan ini, namun kemenangan ada di pihak mereka. Bila munculnya elang dari arah belakang perahu, kemudian terbang searah menyertai perahu namun tiba-tiba menangis, Pertanda yang diberikan menyatakan bahwa tujuan perjalanan akan berhasil namun sekembalinya dari perjalanan, kesusahan bahkan mungkin akan menderita sakit akan dialami. Terbangnya elang dari sebelah kiri kemudian terbang menuju arah kanan dan tiba-tiba mundur ke belakang, bahkan menangis dan menjatuhkan diri, berarti waspada. Bahaya akan segera menimpa mereka. Sebaiknya bila menerima pertanda demikian, batalkan perjalanan minimal tiga hari istirahat di rumah, baru mengadakan perjalanan lagi. Tangis burung elang terdengar di waktu malam pertanda kerusuhan bakal terjadi di kampung sekitar. Seekor elang tiba-tiba terbang sambil menangis masuk ke dalam rumah, pertanda pemilik rumah harus waspada karena ada seorang penghianat yang akan membuat keonaran di rumah tersebut. Bila dalam suatu upacara tiba-tiba muncul seekor burung elang dan terbang melayang di atas lokasi upacara, kemudian menjatuhkan dirinya hingga nyaris menyentuh bumbungan rumah, pertanda akan terjadi kerusuhan dengan pertumpahan darah.

Burung Pantis, Burung Bakutok, Burung papau, dan Burung Salehei
Keempat jenis burung ini bulunya berwarna hitam, dan biasanya orang Dayak tidak pernah membunuh apalagi menyantapnya. Jenis burung ini banyak ditemukan di hutan atau di hulu sungai dan jenis ulat-ulatan adalah makanannya. Kebersatuan dengan alam menyebabkan leluhur orang Dayak sangat memperhatikan dan selalu mengamati dahiang dan segala pertanda alam di sekitarnya. Demikian juga dari gerakan dan suara burung, mereka mampu membedakan bagaimana suara burung yang menunjukkan kegembiraan atau tertawa dengan suara burung yang menyatakan kesedihan atau menangis, dan kadang-kadang mereka menyaksikan burung yang pingsan mendadak, hal tersebut juga mempunyai arti tertentu. Apabila salah satu dari keempat jenis burung ini muncul di suatu kampung atau terbang melewati bawah rumah penduduk, karena dimasa lalu rumah-rumah penduduk berukuran tinggi, untuk menghindari banjir dan binatang buas, maka burung tersebut memberikan pertanda tidak menyenangkan bagi penduduk kampung tersebut. Begitu pula apabila orang Dayak pergi berburu masuk ke dalam lebatnya hutan, kemudian mereka mendengar bunyi suara burung pantis, mula-mula suara burung terdengar disebelah kiri mereka kemudian terdengar lagi suara burung itu dari sebelah kanan mereka, pantis tujuh, pertanda perburuan akan mengalami kegagalan bahkan bencana akan menimpa. Sebaiknya perburuan dibatalkan. Namun apabila yang terdengar adalah suara burung bakutok yang bunyinya terdengar dari sebelah kiri kemudian terdengar lagi disebelah kanan mereka, pertanda baik yang diberikan oleh suara burung bakutok tersebut.

Burung Hantu Ada beberapa jenis burung hantu, diantaranya: burung hantuguk atau burung kukut, yang bersuara kooook…kooook…kooook, burung kangkamiak dan burung kambe. Burung berukuran besar dan berwajah kucing serta berbola mata besar berparuh pendek, berkuku panjang, dan hidup di dalam lebatnya hutan rimba belantara Kalimantan dan hanya muncul di malam hari. Burung jenis ini sangat ditakuti karena dapat memakan manusia dan binatang yang di incarnya. Burung hantu termasuk jenis burung yang ditakuti karena menurut keyakinan ke tiga jenis burung yang yang disebutkan tadi dapat menjelma menjadi perempuan. Itulah sebabnya apabila pada malam hari terdengar suara salah satu dari ke tiga jenis burung tersebut, tanpa membawa daun sawang dan beras kuning, orang Dayak segan untuk keluar rumah. Apabila di malam hari di sekitar rumah penduduk terdengar suara burung hantaguk atau burung kukut menandakan bahwa salah seorang penduduk kampung akan meninggal dunia. Bila tiga malam berturut-turut terdengar suara burung hantaguk, tanda bahwa kampung akan diserang wabah penyakit. Namun apabila burung tersebut hinggap pada salah satu rumah penduduk, berarti salah seorang tetangga akan meninggal dunia. • Burung Kulang Kulit Sejenis burung hantu yang biasanya berkelompok dan kemunculannya di malam hari. Biasanya apabila kelompok burung kulang kulit muncul, tidak lama kemudian muncul mahluk halus.

Burung Kaut Sekalipun burung kaut merupakan salah satu jenis burung hantu, namun kehadirannya dapat memberikan pertolongan kepada manusia. Apabila pada sebuah ladang ditemukan sarang atau telur burung kaut, pemilik ladang akan merasa sangat bersyukur karena keuntungan akan diperoleh. Oleh karena itu sajen yang diletakkan di ancak atau kalangkang atau tempat sajen digantungkan di bawah sarang burung agar dapat dimakan oleh burung kaut tersebut. Diyakini roh burung kaut akan berperan dan turut serta merawat dan menjaga padi yang sedang tumbuh.

Burung Enggang atau Tingang
Jenis burung ini pantang dimakan, karena dapat menyebabkan lepra basamah atau sakit lepra. Suatu hal yang unik apabila memasak daging burung tersebut pada sore hari, maka pada pagi harinya daging burung tersebut sudah keluar hama.
 

Makna Mimpi (dayak)


Orang Dayak meyakini bahwa mimpi merupakan realitas yang bermakna bagi kehidupannya, sehingga mimpi memiliki arti tertentu. Beberapa contoh arti mimpi :

Jenazah. Mimpi melihat jenasah artinya akan mendapat keuntungan.

Darah
. Mimpi melihat darah berarti waspada, darah keluar karena cekcok atau adanya dendam. Bisa dinetralisir dengan dipalas yaitu diusap dengan darah ayam 

Gigi. Mimpi gigi atas tanggal, berarti kenalan atau sanak keluarga yang usianya lebih tua akan meninggal dunia.

Bulan. Mimpi melihat bulan berarti akan bertunangan.

Cincin Mimpi memakai cincin berarti seseorang telah terluka dan sakit hati akibat ulah kita.

Pakaian Putih. Mimpi berpakaian putih berarti akan mengalami sakit keras.

Pakaian Hitam. Mimpi berpakaian hitam berarti akan mengalami sakit keras yang mungkin membawa kematian.

Menjala Ikan. Mimpi menjala ikan berarti akan mendapatkan rezeki.

Sakit. Mimpi sakit berarti lawannya, yaitu sehat walafiat.

Naik Gunung. Mimpi naik gunung berarti akan naik pangkat.

Jatuh. Mimpi jatuh berarti akan mendapat malu

Ular. Mimpi ular berarti akan mendapat godaan lawan jenis.

Buaya. Mimpi membunuh buaya berarti akan mendapatkan lawan yang tangguh.

Anak Burung. Mimpi mendapatkan anak burung berarti dalam waktu dekat akan punya anak.

Ayam. Mimpi menangkap anak ayam berarti dalam waktu dekat akan punya anak.

Perahu. Mimpi naik perahu berarti akan menderita sakit.

Terbang. Mimpi terbang berarti akan mendapat keuntungan.

Makan. Mimpi makan berarti akan menderita sakit perut.

Telanjang. Mimpi telanjang berarti akan mendapatkan malu.

Sapi
. Mimpi dikejar sapi berarti akan menderita sakit.

Kerbau. Mimpi dikejar kerbau berarti akan menderita sakit.

Berenang. Mimpi berenang berarti akan menderita sakit.

Catatan:
Biasanya kalau kita mimpi yang tidak baik, untuk menetralakan mimpi tersebut dengan :
Pada saat trbangun dari mimpi, saat itu juga memotong ujung rambut langsung dikubur atau di letakan di atas tanah...

Rabu, 19 Februari 2014

Tetek Pantan

Tetek Pantan (Potong Pantan)


Dalam Bahasa Dayak Ngaju, kata Tetek artinya potong dan Pantan berarti penghalang. Meskipun tidak semua Acara Tetek Pantan tersebut adalah memotong penghalang, namun istilah Tetek Pantan merupakan istilah populer untuk acara tersebut.

Menyambut tamu dengan pantan adalah dengan membangun suatu pintu gerbang yang dihiasi dengan janur dan berbagai macam bungs. Pada pintu gerbang tersebut ditempatkan "pantan". Setelah "pantan" dipotong atau dibuka barulah tamu tersebut dipersilahkan memasuki tempat acara.

Dalam Adat Dayak Ngaju terdapat 7 (tujuh) macam "pantan" sebagai berikut :

1. Pantan Kayu
Untuk bahan pantan kayu dipilih jenis kayu lemah dengan ukuran diameter ± 10-15 cm dan panjang ± 3 meter.
Kayu tersebut ditempatkan menghalang jalan masuk tamu pada pintu gerbang. Biasanya sebelum dipotong oleh tamu, kayu pantan tersebut ditutupi terlebih dahulu dengan kain batik panjang (bahalai).
Acara Tetek Pantan tersebut dipimpin oleh Damang Kepala Adat. Apabila Damang Kepala Adat berhalangan dapat diganti oleh Tokoh Adat lainnya. Setelah "bahalai" diangkat dari atas kayu pantan, Damang Kepala Adat menyerakan sebuah "mandau" sebagai alat pemotong pantan. Menggunakan mandau tersebut, tamu terhormat dipersilahkan memotong kayu pantan sampai putus.
Sebelum acara "Tetek Pantan" dimulai dan sembari pemotongan pantan oleh tamu, terjadi dialog antara Damang Kepala Adat dengan Tamu Terhormat tersebut berkisar tentang maksud dan tujuan kedatangan sang tamu.
Setelah pantan terpotong barulah tamu dan rombongan dipersilahkan berjalan masuk kearena Acara Penyambutan dipintu masuk tamu terse-but di "tampung tawar" oleh Damang Kepala Adat.

2. Pantan Tewu
Bahasa Dayak Ngaju kata "Tewu" berarti tebu. Acara pantan tewu ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Sungain Katingan. Rangkaian acara sama seperti pelaksanaan pantan kayu.

3. Pantan Garantung

Garantung berarti gong. Jadi dalam Pantan Garantung, benda yang menjadi penghalang dipintu gerbang adalah beberapa buah gong ; jumlahnya antara 3 (tiga) buah, 5 (lima) buah atau 7 (tujuh) buah garantung. Garantung di jejerkan dipintu gerbang acara dan ditutup dengan kain batik panjang (bahalai).
Pertama-tama sang tamu mengangkat kain batik panjang (bahalai) terse-but, kemudian memindahkan semua gong tersebut kepinggir jalan. Setelah itu tamu dan rombongannya dipersilahkan masuk ketempat acara penyambutan.

4. Pantan Balanga

Balanga adalah guci yang mahal buatan Cina berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Jumlah balanga yang dipergunakan sebagai alat pantan antara 3 (tiga) balanga, 5 (lima) balanga atau 7 (tujuh) balanga.
Diatas permukaan balanga ditutup dengan kain batik panjang (bahalai). Sang tamu berkewajiban mengangkat kain bahalai tersebut dari permukaan balanga, kemudian memindahkan seluruh balanga tersebut kesamping. Setelah itu para tamu dipersilahkan memasuki tempat acara penyambutan tamu.

5. Pantan Garantung dan Balanga
Barang untuk pantan berupa beberapa buah garantung (gong) dan beberapa buah balanga (guci).
Tamu Terhormat tersebut pertama-tama memindahkan kain batik panjang (bahalai) dari permukaan garantung dan balanga, kemudian memindahkan semua garantung dan balanga tersebut kesamping, setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongan memasuki arena penyambutan tamu.

6. Pantan Timpung
Bahan pantan timpung adalah kain yang dipasang seperti gorden pintu. Pada kedua sisi bagian tengah kain tersebut disatukan dengan benang. Sang Tamu harus memotong benang tersebut dengan menggunakan gunting atau alai pemotong lainnya sehingga kain pantan dapat terbuka. Setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongannya memasuki arena penyambutan.

7. Pantan Bulan
Dewasa ini pantan bulan lebih merupakan legenda saja oleh karena tidak pernah lagi dilaksanakan.
Dalam pantan bulan, yang menjadi penghalang tamu masuk pada pintu gerbang adalah sejumlah gadis-gadis yang berdiri berjejer. Jumlah gadis-gadis tersebut antara 3 (tiga) orang gadis, 5 (lima) orang gadis atau 7 (tujuh) orang gadis.

Dibawah pimpinan Damang Kepala Adat, tamu yang bersangkutan menarik dan memisahkan gadis-gadis tersebut sampai pintu gerbang terbuka. Pada zaman dulu, sang tamu dapat memilih salah satu dari gadis tersebut untuk diajak mendampinginya masuk kearena penyambutan tamu.

Kamis, 13 Februari 2014

Nama Bagian Tubuh dalam Bahasa Dayak Ngaju

Nama Bagian Tubuh dalam Bahasa Dayak Ngaju



Kosakata nama bagian tubuh dalam Bahasa Dayak Ngaju (Kalimantan Tengah)
Balaw (baca: ba-law) = rambut
Urung (baca: u-rung) = hidung
Pinding (baca: pin-ding) = telinga
Mate (baca: ma-te) = mata
Uyat (baca: u-yat) = leher
Takuluk / kuluk (baca: ta-ku-luk / ku - luk) = kepala
Usuk (baca: u-suk) = dada
Toso (baca: to-so) = dada wanita
Ijang (baca: i-jang) = dagu
Jela (baca:je-la; pengucapan e seperti pengucapan huruf e pada "bebek") = lidah
Kasinga (baca: ka-sing-nga) = gigi
Balengkung (baca: ba-leng-kung; pengucapan e seperti pengucapan huruf e pada "bebek") = tenggorokan
Biweh (baca: bi-weh; pengucapan e seperti pengucapan huruf e pada "bebek") = bibir
Lenge (baca: leng-nge; pengucapan e seperti pengucapan huruf e pada "bebek") = tangan
Pai (baca: pai; disambung; bukan pay) = kaki
Silu (baca: si-lu) = kuku
Utut (baca: u-tut) = lutut
Sapak (baca: sa-pak) = paha
Penang (baca: pe-nang; pengucapan e seperti pengucapan huruf e pada "bebek") = lengan
Para (baca: pa-ra) = pantat
Lukap = Telapak Tangan
Kaning = Alis

Singut = Kumis
Buntis = Betis kaki
Uti = Perkakas Laki"
Opes = perkakas perempuan
Puser = pusat
Tinjuk lenge = jari tangan
Tinjuk pai = jari kaki
Kalaguet = ubun-ubun
Mate pai = mata kaki
Katiak = ketek

Tangan: LengeKaki: Pai

Telapak tangan: Lokap

Jari tangan: Tunjok

Ibu jari: Tunjok indu

Telunjuk: Aninjok

Jari tengah: Tunjok bentok

Jari manis: Tunjok manis

Kelingking: Tunjok angking 

ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

  ANJING DALAM BUDAYA DAYAK                                                                           image : footage.framepool.com Anjing a...