Selasa, 11 Februari 2014

Balian Wanita Dari Dendem Entem


Balian  Wanita  Dari   Dendem  Entem


SUASANA dalam sebuah rumah betang di puncak puruk (bukit berbatu) Dendem Entem sudah sunyi senyap. Tidak terdengar lagi suara tawa canda, obrolan bahkan bisik-bisik sekalipun; hanya suara dengkur bersahut-sahutan. Lampu-lampu nyating (terbuat dari damar, getah kayu hutan yang mengental) sudah berpadaman, dalam betang (rumah panjang tradisional suku Dayak, dihuni berpuluh-puluh keluarga) keadaannya gelap gulita. Tetapi dari satu-satunya karung (kamar) yang lawang (pintu) nya menghadap ke tengah betang, terdengar suara-suara lirih berbisik.

 Rentik, ini aku”, terdengar bisikan seorang lelaki.

 “Siapa itu ?  Pergilah tidur, jangan menggangguku !”, suara seorang perempuan menimpal.

 “Ini aku, bang Siang”, bisik suara lelaki tadi kembali.

 “Apa gerangan niatmu di tengah malam seperti ini ?”, tanya perempuan tadi.

 “Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, karena aku ..........”, suara si lelaki lalu terpotong.

 “Jika yang kau sampaikan masih seperti dulu, aku masih menyediakan jawaban yang sama yakni tidak.  Jika tidak puas, nyalakan lampu !  Biar kita berbicara di tempat terang, di tengah betang”,  ucap si perempuan dengan tegas. Nampaknya lelaki yang bernama bang Siang itu memang seorang yang tidak tahu diri, tangannya mulai nakal merayapi tubuh si perempuan.

 “Kembalilah ke tempatmu saudaraku. Sebagai sanak sendiri jangan merusak nama baik betang ini”,  terdengar suara si perempuan dengan perlahan tetapi tegas. 

Pernyataan keras namun diucapkan dengan lembut itu ditafsirkan lain oleh bang Siang.  Dianggapnya semua ucapan Rentik itu tidak sungguh-sungguh.  Tanpa pikir panjang lagi bang Siang meraih tubuh Rentik ingin memeluknya.

 “Hei enyahlah kau, lelaki tidak tahu diri !  Keluar !”,  mendadak terdengar suara yang lebih nyaring dengan nada tinggi dari mulut Rentik. Akibatnya semua yang terlelap jadi terbangun saking terkejutnya. Suasana menjadi ribut,  nyating lalu dinyalakan.  Semua orang lalu  memasuki kamar satu-satunya yang ada di betang itu.  Terlihat bang Siang tertunduk lemas karena takutnya.

 “Alangkah beraninya kau masuk ke karung mina (bibi) ku ?”, hardik seorang pemuda pada bang Siang.  

 “Sesungguhnya aku mau mengatakan tentang ................”, ucap bang Siang memelas, mencoba untuk berdalih.

 “Diam kau !  Jelas sudah bersalah masih are pander (banyak bicara) !”, hardik pemuda tadi.

 “Beri aku kesempatan, dengarkan penjelasanku ………”, ucap bang Siang.

 “Tidak perlu !”, potong pemuda itu tadi.  Bang Siang tunduk terdiam.

 “Untuk menjelaskan persoalan, tidak bolehkah ia berbicara sedikit ?”, ucap seorang pemuda lain bertanya, nampaknya ia teman bang Siang.

 “Siapa itu yang ikut-ikutan ?”, seorang pemuda lain berseru.

 “Pukul saja bila mereka banyak ulah !”, seru seseorang menimpali.

 “Jangan main hakim sendiri kawan !”, kata teman bang Siang tadi.

Situasi semakin panas dan nampaknya sudah tidak terkendali lagi. Walau pun beberapa yang tua telah mencoba untuk menengahi, namun kaum mudanya tidak dapat dibendung. Pukulan, tamparan dan tendangan menerpa tubuh bang Siang. Kawan-kawan bang Siang tidak dapat berpangku tangan, melihat dan membiarkan semua itu terjadi. Akhirnya terjadilah perkelahian antara bang Siang dan tujuh orang temannya melawan para pemuda sebetang itu.

Dari perkelahian semula tangan kosong beralih menggunakan senjata berupa mandau dan tombak serta dari perkelahian dalam karung yang sempit beralih ke ruang tengah betang yang luas. Lampu nyating jatuh rebah ke lantai, amuk mereka itu dalam keadaan gelap gulita. Suara jerit kesakitan, erangan dan mengaduh terdengar di sana sini dalam kegelapan. Kesudahannya perlawanan bang Siang dan kawan-kawannya melemah. Satu persatu mereka berjatuhan, meninggal. 

Bilamana nyating telah dinyalakan terlihat tumpukan manusia yang terluka parah serta mayat di mana-mana. Ratap tangis keluarga yang ditinggalkan terdengar pilu malam itu. Diantara mayat-mayat itu ternyata seorang dari teman bang Siang tidak ada. Berarti ia dapat meloloskan dirinya, beberapa orang segera turun mencari di seputar puruk namun tidak dapat menemukannya.

Sebenarnya betang di puruk Dendem Entem yang menghadap ke tepi sungai Teweh itu bukanlah betang kediaman penduduk biasa, melainkan sebuah tempat yang fungsinya bagaikan asrama sekaligus sebuah sekolah. Di tempat itu dipelajari cara-cara melaksanakan balian (upacara pendekatan kepada Yang Maha Kuasa) untuk pengobatan meliputi manteranya, musik tradisionalnya, cara menarinya; memohon restu, membayar hajat dan sebagainya.

Rentik, walaupun masih muda sudah sangat mahir dalam melakukan upacara balian. Jadi boleh dianggap seperti pada masa kini ia adalah seorang guru, merangkap kepala sekolah sekaligus kepala asrama dari sebuah sekolah “balian”. 



Banyak sudah lamaran para pemuda bahkan diantaranya muridnya sendiri untuk mengambilnya sebagai isteri ditolaknya. Berasal dari sebuah keluarga yang cukup terpandang membuat Rentik dituakan orang-orang di perguruan tersebut. Sayangnya ia belum terpikir untuk bersuami, sehingga terjadilah peristiwa berdarah malam itu akibat perilaku bang Siang yang memaksanya.

Sebenarnya bang Siang sendiri bukanlah orang sembarangan.  Ia adalah adik bang Pak, kepala kampung Danuparui di sungai Ratah anak sungai Mahakam. Suku ini bertutang (tatto) warna merah dan terkenal masa itu sangat ganasnya, seseorang dari suku lain hanya dipandangnya dari banyaknya tengkorak kepala yang dikoleksinya dari hasil mengayau (memotong kepala musuhnya).  Bang Siang dan tujuh orang temannya secara kebetulan singgah di puruk Dendem Entem dari perjalanannya menjual balanga (tempayan).

Dari niatnya semula yang ingin berguru tentang balian, ketika terpandang wajah Rentik malah jatuh cinta dan ingin menyuntingnya seperti pemuda-pemuda sebelumnya. Kenekadannya menyebabkan hilangnya nyawanya sendiri dan enam orang temannya yang lain.

Seorang teman bang Siang yang berhasil meloloskan diri akhirnya sampai ke kampungnya. Semua keluarga di lamin (rumah panjang suku Dayak di daerah Kalimantan Timur) di kampung Danuparui itu menjadi sedih, setelah mendengar cerita tentang masalah yang dihadapinya sampai lolosnya dirinya. Bang Pak dan saudara-saudaranya bang Juk dan bang Irang serta tetuha lainnya lalu bermusyawarah.

Dengan amarah yang meluap bang Pak menarik kesimpulan dari musyawarah itu, katanya : “Matinya adikku dan teman-temannya harus dibalas. Kita semua adalah keluarga yang berpantang untuk membawa hutang piutang ke liang kubur. Bagi yang merasa punya piutang dengan orang-orang di tepian sungai Teweh itu bergabunglah denganku !  Keluarga yang lainnya jagalah kampung kita”.

 “Sebaiknya lelaki yang sudah uzur (lemah dan lanjut usia), kaum wanita dan anak-anak saja yang tinggal”,  seorang tetuha menambahkan.

Bulat mufakat dan tekad mereka, piutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Maka segenap lelaki dewasa kampung Danuparui dan malah dibantu semua lelaki dari lamin-lamin sepanjang gunung Meling sampai gunung Durung Ayuh. Di bawah pimpinan bang Pak mereka yang banyaknya sekitar 500 orang itu mulailah bergerak pergi menuju sungai Teweh.

Di puruk Dendem Entem sendiri, Rentik sudah memperhitungkan datangnya pembalasan. Pepohonan di lereng puruk ditebang dan dipotong sepanjang dua meteran dan dijadikan pagar kayu bulat dengan singkang (diameter) sejengkal serta dipasang tegak yang disebut kuta.  Sekeliling punggung puruk dibuat parit yang lebar mengelilingi betang.

Sedikit perasaan cemas terbersit di hati Rentik, sebab mereka kekurangan tenaga untuk bertempur.  Desa-desa dan keluarga-keluarga di sekitar Dendem Entem tidak dapat memberikan bantuan.  Para pemudanya saat itu kebanyakan sedang pergi ke perairan muara sungai Barito untuk menghadapi kawanan bajak laut manca negara yang sedang merajalela.

Akhirnya gerombolan bang Pak tibalah di kaki puruk, seorang utusan dikirim meminta penyerahan tanpa syarat. Melihat banyaknya musuh semula Rentik ingin berdamai saja, namun utusan itu sombong sekali sikapnya dan menyampaikan pesan pimpinannya bahwa mereka tidak ingin berdamai.

 “Kita terpaksa harus menghadapi mereka.  Tempat ini tidak mungkin dapat dihancurkan mereka. Kita akan mendapat bantuan dari nayu (roh para leluhur) bila mereka sampai menjejakkan kaki di halaman betang kita ini.  Percayalah padaku !” kata Rentik membesarkan hati anak buahnya.

Setelah utusan berlalu mereka pun bersiap. Pintu kuta ditutup, disela-sela pagar kuta berdiri para penyumpit dengan damek (anak sumpitan) beracun. Terlihat mereka itu bergerak maju ke atas puruk, tetapi tidak segera menyerang.  Ternyata mereka mempersiapkan haramaung nyaran,  sebuah perisai besar dari baner (akar papan pohon besar yang tebal) yang diberi beroda,  para penyerang berada di bawahnya.  Haramaung nyaran itu diperlengkapi dengan alat pelontar bagaikan katapel.

Batu-batu sebesar buah kelapa beterbangan dan merubuhkan pagar kuta.  Rentik dan anak buahnya mundur ke tepi parit yang di dalamnya dipasangi suah (bambu runcing), sambil dengan gencar tetap menghembuskan dameknya.

Para penyerang menghadapi hujan damek itu dengan perisai sambil melindungi teman-temannya yang mengangkat kayu-kayu pagar kuta yang rebah tadi untuk menutup parit membuat jalan menyeberang. Orang-orang bertatto merah gerombolan bang Pak ini memang ahli berperang ketimbang Rentik dan anak buahnya yang hanya pandai menari dan melaksanakan upacara tradisional.

Akhirnya anak buah Rentik mundur dan bertahan di bawah pelataran betang dan terus menghembuskan dameknya.  Selain itu mereka membuat api unggun dengan maksud asapnya dijadikan sebagai tirai berlindung. Asap membumbung tinggi menutup pemandangan, betang jadi terlindung dibaliknya. Rentik naik, membakar kemenyan serta memerintahkan kaum wanita untuk memukul garantung (gong). 

Ketika para penyerang anak buah bang Pak telah dapat menyeberangi parit dan anak buah Rentik juga maju menyambangi dengan bersenjatakan tombak dari sumpitannya, tiba-tiba terdengar suara riuh dari atas betang.

 “Lulu lulu lulu hui !”  Itulah suara lahap (sorak kegembiraan) anak buah Rentik.

 “Kita pasti menang !  Kita pasti menang !  Dia datang !  Dia datang !” Teriak gembira berkumandang dari atas betang ke mana-mana. Bersamaan dengan itu pula berhembus angin yang hawanya dingin dari puncak puruk dan perlahan membuyarkan tirai asap yang dibuat anak buah Rentik. Dari seberang parit bang Pak melihat bangunan betang di puruk Dendem Entem itu dengan mulut ternganga.

Di atas atap betang terlihat puluhan orang lelaki mengenakan sangkarut (pakaian kebesaran suku Dayak bentuknya seperti rompi terbuat dari kulit kayu) berwarna merah sedang menari perang. Di tangan mereka tergenggam mandau (senjata tradisional suku Dayak berbentuk parang) yang terlihat semakin membara.  Sedangkan di pelataran betang nampak Rentik masih menaburkan beras berkunyit dengan mulutnya yang komat-kamit.  Kaum wanita anak buahnya dengan gencar memalu garantung dengan irama berbau kematian.

Bang Pak yang banyak pengalamannya melihat semua itu menjadi ciut nyalinya. Ini sudah sangat berbahaya, sebab Rentik ternyata benar-benar seorang balian wanita muda yang piawai. Ia dapat dengan mudah memanggil nayu untuk membantunya.  Bang Pak berseru memerintahkan anak buahnya untuk segera mundur,  jelas untuk melawannya tidaklah mampu.

Para penyerang itu berlarian mundur menyeberangi parit, namun warga puruk Dendem Entem tidak mengejarnya dan membiarkan saja musuhnya itu pergi.  Kemudian semuanya menghilang dalam kelebatan rimba di kaki puruk di bawah sana.

Warga puruk Dendem Entem berkumpul, mereka mengerumuni ketuanya Dayang Rentik, balian wanita yang handal itu. Sebagian mereka masih heran, kemana perginya nayu yang tadi terlihat di atas betang mereka itu.  Sejak itulah di kalangan suku Dayak dikenal adanya upacara memanggil arwah nenek moyang untuk meminta bantuan dalam menghadapi serangan musuh.~~~~


Senin, 20 Mei 2013

Manen, Pembuat Banama Sungkai


Manen, Pembuat Banama Sungkai

Oleh  :  Abdul Fattah Nahan

          Manen adalah putera bungsu dari tamanggung (gelar kebesaran bagi pemimpin suku atau sebuah betang)  Baya, yang ketika hidupnya adalah seorang pemimpin sebuah desa di daerah sungai Kahayan. Keenam saudara Manen yang lainnya baik lelaki mau pun perempuan semuanya telah berkeluarga. Tinggal ia seorang diri yang belum, padahal banyak gadis-gadis di desanya yang tertarik padanya.
          Selain tampan, Manen seorang pemuda yang rajin bekerja. Waktunya tidak pernah lowong, tidak mau ia duduk-duduk mengobrol atau membual sambil minum-minum tuak seperti pemuda desa lainnya. Kalau tidak pergi ke ladang, pastilah ia manasal (menempa besi) membuat parang, mandau (senjata tradisional suku Dayak, sejenis parang), tombak dan peralatan dari besi lainnya.
          Sudah menjadi kebiasaannya api bekasnya bekerja menempa besi itu tidak dimatikannya. Puntung-puntung yang membara itu hanya ditutupi dengan abu, sehingga esok harinya mudah ia menyalakannya kembali untuk bekerja. Beberapa hari ini api yang ditutupinya itu selalu padam dengan sisa puntung-puntungnya yang berserakan. Manen jadi merasa terganggu, ulah siapa yang mengusik apinya untuk bekerja itu ?
          Suatu malam ia mengintai penyebab semua itu. Ketika waktu telah merambat melewati tengah malam dan hawa semakin dingin, dari arah tepi sungai muncullah seorang wanita yang amat cantik. Wanita itu mendekati tumpukan api Manen yang tertutup abu, membongkarnya dan menyusun puntung-puntung yang ada hingga api menyala kembali.  Badannya menggigil, nampaknya ia kedinginan, kedua tangannya dipanaskan di atas api.  Tak peduli ia pada keadaan sekitarnya.
         Menjelang  pagi,  puntung-puntung telah habis terbakar dan berserakan. Ia bangkit berdiri dan beranjak  pergi. Saat itulah Manen lalu mendekapnya dari belakang. Mereka bergulat dengan seru, wanita itu berontak namun akhirnya melemah karena Manen sangat kuat. Ini disebabkan ia seorang yang setiap hari bekerja keras, hingga tenaganya pun luar biasa.
          “Rupanya kaulah orangnya yang merusak apiku selama beberapa hari ini. Sebagai penebus kesalahanmu itu kau harus ikut aku, sebagai pendamping hidupku”,  kata Manen kepada wanita itu.
          “Lepaskanlah aku. Tidak mungkin kita dapat hidup bersama karena aku makhluk dalam air, anak bungsu dari Jata (penguasa alam bawah, dalam air sungai dan lautan).  Mustahil aku dapat tinggal di muka bumi ini,  jawab wanita itu.
          Tiba-tiba terdengar suara menggelantung di udara dari arah sungai  : “Anakku, mungkin pemuda inilah jodohmu. Aku tahu selain mempunyai utus (keturunan), ia seorang yang gagah berani, berbudi baik dan setia. Engkau sendiri agak kurang cocok hidup dalam air, sehingga sampai naik ke darat mencari api untuk berdiang. Ayah restui hubungan kalian berdua.”  
          Semburat sinar matahari pagi menyinari mereka berdua yang berbimbingan tangan pulang ke rumah Manen. Orang sekampung gempar karena Manen pagi-pagi sekali sudah jalan-jalan berduaan dengan seorang wanita yang tidak tertandingi kecantikannya.
          Manen menemui ibunya dan menceriterakan semua peristiwa itu serta memohon restunya untuk mengawini Bawin Jata (anak perempuan Jata, penguasa dalam air mahluk super natural) tersebut.  Ibu yang arif serta sangat menyayangi Manen itu langsung segera menyetujuinya. Semua saudara Manen sangat menentang niat Manen itu, anggapan mereka Bawin Jata itu hanyalah taluh penda danum (hantu atau roh yang hidup dalam air).
          Akhirnya perkawinan antara Bawin Jata dan Manen pun berlangsung, semua yang hadir kagum melihat pasangan itu yang sangat serasi. Pengantin lelakinya tampan sedang pengantin wanitanya bagaikan bidadari. Beberapa  tahun  berlalu  dengan  tenteram hingga terjadi peristiwa yang susul menyusul menimpa desa itu. Setiap wanita hamil tua atau yang habis melahirkan dan bayi-bayi, pasti mendapat sakit kejang-kejang lalu meninggal dunia. 
  Wanita-wanita yang pernah menaruh hati pada Manen dahulu dan walau pun Manen sekarang sudah berkeluarga dengan empat orang puteranya, masih menaruh hati, mendapat kesempatan untuk membalas perbuatan Manen yang menolak cinta mereka dahulu dengan adanya peristiwa kematian beruntun ini. Salah seorang di antara mereka itu yang sedang hamil tua berpura-pura kemasukan, yang lalu dengan wajah  ketakutan  berteriak-teriak : “Bawin Jata !  Bawin Jata !”
          Semua yang mendengarnya lalu menanggapi bahwa penyebab seluruh kematian selama ini adalah akibat perbuatan Bawin Jata, isteri Manen yang tidak tentu asal usulnya yang pasti seorang hantimang (kuyang, palasik, manusia berilmu hitam yang bagian kepalanya terbang mencari mangsa waktu malam hari).  Akibatnya sangatlah fatal, orang sekampung mendatangi rumah Manen ingin mengamuk. Untung kepala desa dapat mencegahnya serta menenangkan mereka.
          Manen lalu berkata : “Para warga sekalian. Coba kalian pikir, kematian paling baru terjadi pagi ini.  Paman Sangen yang tinggal serumah dengan kami melihat, pada saat yang sama itu isteriku sedang menyusui anak kami yang bungsu sambil memasak. Bagaimana dapat ia membagi dirinya untuk mendatangi rumah orang yang baru melahirkan itu ?  Wajarkah kata-kata orang yang kerasukan dijadikan pegangan ?”
          Paman Manen yang bernama Sangen serta kepala desa terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.  Orang-orang yang ingin mengamuk itu mundur dan menghilang satu persatu tanpa mengucapkan sepatah kata.
          Manen sedih atas nasib isteri berikut keluarganya yang terkena fitnah itu.  Ia sangat yakin isterinya tidak bersalah dan bukan seorang mahluk jadi-jadian yang jahat. Manen lalu mengajak  keluarganya pindah,  menjauhkan diri dari kampungnya itu. Mereka  lalu  tinggal  jauh di  belakang  desa  dekat tepi  danau  Lewu  yang  sekarang  dinamakan  kaleka  (bekas  pemukiman) Labehu Bunter. Sambil berladang Manen membuat sebuah banama (perahu besar) dari kayu sungkai. Lima tahun lamanya banama itu serta tatas (rintisan jalan) untuk jalan ke luarnya banama nanti menuju sungai Kahayan, dikerjakan oleh Manen seorang diri.
          Setelah siap semuanya, maka barang-barang dan keluarganya serta semua ternaknya lalu dimuatkan ke dalam banama itu. Manen memang telah mempunyai rencana pergi jauh meninggalkan kampung halamannya. Ia telah memutuskan untuk lebih mencintai keluarganya sendiri dari pada segenap saudara dan babuhannya (keluarga, kerabat) yang nampak tidak mengacuhkannya lagi sebab termakan fitnah tersebut.
          Pada suatu malam di bulan purnama, banama itu ke luar lewat tatas yang dibuatnya menuju sungai Kahayan lalu menghilir ke arah muara. Sesudah dua puluh hari terkatung-katung di laut, akhirnya menjelang fajar terlihatlah daratan sebuah pulau yang nampaknya berpenghuni. Ayam jantan Manen lalu berkokok ketika banama itu menyentuh bibir pantai. 
          Manen dan ketiga anak lelakinya meloncat turun dan menjejakkan kakinya ke pasir pantai. Manen menggerak-gerakkan tubuhnya agar lemas karena hampir sebulan duduk memegang kemudi. Anak-anaknya berlarian sambil melemparkan gumpalan pasir satu sama lain. Mereka gembira karena selama ini duduk terkurung dalam palka (ruang barang di bawah dek)  yang sempit.
          Tiba-tiba beberapa orang berpakaian hitam-hitam, dengan celana setinggi lutut dan berikat kepala hitam dengan kumis lebat hitam melintang, memegang tombak mendatangi Manen. Mereka menganggukkan kepala rupanya memberi hormat. Semula Manen sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan mereka. Namun akhirnya dengan hanya berbahasa isyarat  Manen dan orang-orang itu, yang  ternyata adalah  para  punggawa (pengawal kerajaan) dari sebuah kerajaan di pulau itu, dapatlah menjalin percakapan yang berjalan dengan lancar.
          Seorang di antara punggawa itu berkata : “Kedatangan saudara ke kerajaan kami di pulau ini telah diketahui raja kami. Itu karena suara kokok ayam jantanmu, sedangkan di kerajaan ini tidak ada lagi ayam jantan yang berkokok karena semua mati.  Jika ada ayam jantan yang dapat  mengalahkan  ayam jantan raja, maka raja sendiri kemudian turun berkelahi sampai mati dengan pemiliknya.  Jika  pemiliknya mati  ayamnya pun kemudian dibunuh pula.
          Punggawa lainnya berkata menambahkan : “Belum ada yang mampu untuk mengalahkan raja kami yang bernama Arya Pecutanda yang sakti dan kebal itu. Ayam saudara telah berkokok, itu berarti ayam dan pemiliknya telah menantang raja.”
          “Waah, aku tidak berniat seperti itu. Mana kutahu ada peraturan seperti itu di sini. Aku hanya ingin menetap di sini, mengadu untung mencari kehidupan baru yang jauh dari kampung halamanku di seberang laut ini. Biarlah nanti ayamku itu akan kupotong untuk dimakan saja,  jawab Manen dengan sopannya merendahkan diri.
          Punggawa itu memegang tangan Manen dan berkata : “Jangan kau bunuh ayammu itu. Mungkin nasibmu baik, dapat mengalahkan ayamnya serta dirinya pula. Sudah tidak tahan kami mengabdi pada raja yang demikian kejamnya itu. Tapi semua arya (gelar bangsawan orang Madura)  lainnya tidak dapat dan tidak berani melawannya. Walau pun ayammu kau bunuh, kau pula yang dibunuhnya dan seluruh milikmu dirampas. Sudahlah besok kau kami jemput, jadi beristirahatlah kau dahulu.  Kami dan semua arya yang ada akan mendoakan kemenanganmu. Semoga raja mendapat musuh yang dapat mengalahkannya kali ini.” Setelah kembali memberi hormat para punggawa itu berlalu.
          Manen kembali ke atas banama mendapatkan isterinya dan  menceriterakan  tentang percakapannya dengan orang-orang itu. Ia menjadi sedih karena merasa  bersalah, ingin membawa keluarganya lari  dari kesulitan  malah mendatangi kesulitan baru yang nampaknya akan mengakhiri nyawa mereka semua.
          Dengan tersenyum Bawin Jata berkata : “Kak Manen, janganlah cemas. Bukankah engkau menantu Jata, dewata yang menguasai alam bawah ? Aku akan memohon bantuan ayahku demi keluarga kita. Kau hadapi saja tantangan itu besok.”
          Keesokan harinya Manen dijemput para punggawa dan dibawa menghadap raja mereka. Sebelum berangkat Bawin Jata menyerahkan sebilah  duhung  (senjata  tradisional  suku Dayak, mata berbentuk tombak) berhulu gading lengkap dengan sarungnya dari perak  berukir.
          Selama ini tidak pernah Manen melihat duhung itu, yang lalu disisipkannya di perutnya. Di halaman sebuah rumah besar dari kayu yang berukir indah telah disiapkan gelanggang menyabung  ayam.
          Sambil duduk  dikursinya Arya Pecutanda berkata pada Manen yang duduk berjongkok, seraya mengelus-elus ayamnya :  “Hai orang asing !  Mungkin sudah kau ketahui dari punggawa, tapi akan kuulang kembali tentang peraturan pertandingan kita ini. Jika ayammu kalah, ayam itu harus dibunuh. Kau dan keluargamu bebas tetapi hartamu kuambil.  Jika ayammu menang, pertandingan dilanjutkan antara kau dan aku sampai ada yang mati. Andai kau mati, keluargamu pun kubunuh dan hartamu jadi milikku. Andaikata  aku yang mati ambillah kerajaanku sebagai milikmu. Bila kau takut bertanding dan membunuh ayammu, kau sekeluarga menjadi budakku dan hartamu kuambil. Suka tidak suka itulah peraturanku.”
          Dengan tenang Manen menjawab : “Aku hidup dengan satu pandangan. Di mana buminya kupijak, adat dan aturannya akan kuturuti.”
          Singkat cerita persabungan ayam pun dimulai. Ayam raja itu masih ditambah dengan taji dari besi kecil yang tajam setiap sisi di kedua kakinya,  sedangkan ayam jantan Manen hanya taji aslinya  yang cukup panjang juga. Dan, dalam persabungan itu ayam rajalah yang kalah.
          Ayam Manen cukup cerdik, tajinya pada gebrakan yang pertama. langsung mengenai mata ayam jago raja. Setelah ayam raja kelimpungan tidak dapat melihat, dengan ganas bertubi-tubi ayam Manen menikamkan tajinya hingga ayam raja mengeok kesakitan dan berlari pergi.
          Arya Pecutanda berdiri dari kursinya dengan wajah memerah, mendekati Manen lalu membawanya mendekati sebuah lubang dalam tanah. Lubang itu adalah sebuah sumur kering, garis tengahnya satu meter dan dalamnya setinggi bahu.
          Arya lalu berkata : “Inilah tempat kita bertarung sampai mati. Biarlah aku turun lebih dahulu.”
          Setelah keduanya bersiap, telah sama berdiri tegak berhadapan dalam lubang itu, Arya Pecutanda berkata lagi :  Arya Wiraraja, tolong kau hitung sampai tiga untuk kami berdua bertikam.”
          Tepat pada hitungan ketiga, tangan kedua orang itu bergerak dengan cepat mencabut senjata masing-masing. Akan halnya Manen, bagai kilat kedua tangannya mencabut duhungnya ke atas lalu menyorongkannya ke perut Arya Pecutanda dengan deras sampai ke gagangnya.
          Ujungnya menembusi badan Arya dan menancap di dinding lubang itu hingga Arya seperti dipakukan.  Kepala Arya terkulai, wajahnya yang hitam semakin kelam terkena duhung beracun itu. Ia tidak sempat sama sekali mencabut kerisnya yang terselip di punggung. Kedua tangannya terbentur dinding lubang. Karena Manen menusuk sambil merapatkan badannya, hingga kedua tangan Arya tidak leluasa bergerak.
          Para arya dan orang banyak di atas lubang bersorak, raja yang kejam dan ditakuti itu telah mati. Beramai-ramai mereka mengangkat Manen keluar lubang dan menggotongnya naik ke rumah besar, istana kerajaan itu. Isteri dan anak-anaknya dijemput mereka dan diusung dengan hormatnya. Semuanya setuju dan merelakan Manen si orang asing sebagai rajanya.
          Manen bertindak bijaksana dengan membebaskan seluruh budak yang ada. Bagi beberapa orang yang masih ingin tinggal bersamanya dan membantunya bukan lagi dianggap sebagai budak melainkan seperti keluarga sendiri dan diberi upah yang layak.
          Setiap orang boleh memelihara ayam jantan lagi dan kebebasan menyabung ayam seperti biasa. Peraturan Arya dihapuskan karena Manen sendiri hanya memelihara saja, tidak menyabungkan ayamnya.  
          Keturunan  Manen  kemudian  berbaur dengan penduduk asli pulau itu yakni pulau Madura. Oleh sebab itu orang-orang Madura yang merupakan keturunan Manen, kaum lelakinya telinganya sebelah bertindik (lubang telinga untuk mengaitkan subang) sedang-kan perempuan bergelang di kaki. Jika ditanya silsilahnya, mereka pasti menjawab : “Kami adalah anak cucu Datu Manen dari seberang, dan orang Dayak adalah saudara kami.”
          Bekas mendaratnya Manen di pulau Madura hingga kini masih dapat dilihat, banamanya telah berubah menjadi sebuah batu besar berbentuk sepotong sabut kelapa. Letaknya di Tanjung Piring  dekat desa Nipah, kecamatan Ketapang kabupaten Sampang. Batu itu ditumbuhi beringin, merupakan tempat orang berhajat dan dikeramatkan.        
          Kabar tentang kehidupan Manen sampai ke kampungnya, dibawa  oleh  pelaut-pelaut  Madura  yang berdagang sapi ke pulau Kalimantan. Sepeninggalnya Manen sekeluarga tetap saja banyak wanita hamil dan bayi yang mati sehabis melahirkan. Ketika mereka manyanggar (menyelenggarakan upacara tolak bala) menanyakan sebabnya dengan para dewa, diperoleh petunjuk hal ini disebabkan kurangnya menjaga kebersihan lingkungan serta peralatan sewaktu  melahirkan  itu sendiri.
          Seluruh penduduk dan sanak keluarga Manen menyesal atas perbuatannya.  Sebagai kenang-kenangan kepadanya desa mereka itu lalu dinamakan Manen Paduran, letaknya di tepi sungai Kahayan termasuk kecamatan Banama Tingang kabupaten Pulang Pisau.
         Kurang lebih lima belas menit berjalan kaki ke belakang desa Manen Paduran di sungai Rahai di tepi danau Lewu akan kita jumpai bekas galian sepanjang tiga puluh empat meter, lebar sepuluh meter dan dalam dua meter.  Menurut cerita orang tua-tua, mungkin galian ini adalah pola waktu Manen membuat banamanya. Di sekitar tempat itu berserakan tatalan kayu sungkai yang telah menjadi batu (fossil). ****

ANJING DALAM BUDAYA DAYAK

  ANJING DALAM BUDAYA DAYAK                                                                           image : footage.framepool.com Anjing a...